Kak
Ochi Yang Sexy –
Namaku Fadel, sejak aku SMA aku tinggal berdua bersama kakak perempuanku Rosi
yang biasa ku panggil kak Ochi di sebuah rumah kontrakan. Sedangkan orangtuaku
tinggal di kota yang berbeda karena urusan bisnis. Saat ini aku masih kelas 2
SMA sedangkan Kak Ochi sudah kuliah semester 3.
![]() |
| Ochi Shinican |
Cerita
Sex: Kak Ochi Yang Sexy – Ist
Menurutku
kak Ochi gadis yang sempurna, sudah cantik, sexy, baik lagi. Idaman semua cowok
deh pokoknya, termasuk aku adeknya, hihihi.. Setahuku kak Ochi sekarang sedang jomblo,
soalnya dia tidak pernah bilang kalau dia sudah punya pacar lagi sejak putus
dengan mantan pacarnya dulu. Soalnya kalau ada apa-apa dia biasanya sering
curhat padaku, bahkan sampai ngomongin urusan kuliahnya yang tentu saja aku
tidak paham.
Cerita Sex
| Meskipun kak Ochi sudah beberapa kali pacaran sejak dia SMA dulu, tapi
setahuku dia masih perawan. Aku gak pernah periksa sih, tapi aku yakin saja
kalau dia memang masih perawan. Kesehariannya kalau dia sedang ngampus atau
keluar rumah pakaiannya biasanya selalu tertutup dan memakai jilbab, walau
itupun kadang baju dan celananya agak ngetat juga. Tapi kalau di rumah jangan
ditanya, pakaiannya sembarangan amat. Sampai-sampai aku yang adeknya sendiri
jadi nafsu melihatnya. Tapi yang jadi masalah itu dia sering menggodaku dengan
omongan dan ulah-ulah nakalnya T.T
Makin
hari entah kenapa aku makin terobsesi pada kakakku sendiri sampai menjadikan
kakakku sendiri sebagai objek onani, lagian salah dia sendiri sih sering
menggodaku. Apalagi dia seringnya pake baju minim kalau sedang di rumah,
bagaimanapun aku kan laki-laki juga. Ada cewek cantik, sexy, dengan pakaian
terbuka berada di dekatku mau gak mau bikin si konti jadi ikutan berontak.
Sebenarnya aku cukup beruntung karena aku salah satu orang yang bisa melihat
tubuh kakakku dalam balutan pakaian minim begini. Orang lainnya? yaitu
teman-temanku yang sering main ke sini.
Tidak
heran ketika teman-temanku main ke rumah mereka selalu terkagum-kagum melihat
kakakku yang hanya menggunakan celana pendek sepaha dengan kaos oblong. Sungguh
beruntung mereka mendapat pemandangan segar seperti itu di rumahku. Kakakku
sendiri tidak terlalu peduli dan cuek saja dengan pakaiannya itu, bahkan
bersikap ramah pada mereka, meladeni obrolan juga candaan mereka. Sama
sepertiku, teman-temanku yang aku dapatkan ini pikirannya sama ngeresnya
denganku. Walaupun aku lebih ngeres lagi karena nafsu sama kakak sendiri.
Saat
ini salah satu temanku Ucup datang ke rumahku. Katanya sih mau bikin PR bareng,
tapi seperti biasa, waktu kami lebih banyak habis karena main PS doang. Selain
itu dianya pasti juga sekalian cuci mata kalau datang ke rumahku.
“Bro..
bagi foto kakak lo dong” pintanya di sela-sela asik main game.
“Untuk apaan?”
“Kayak gak tau aja lo.. ya buat bahan coli lah.. hehe” katanya kurang ajar bicara begitu tentang kakakku.
“Kampret lo.. lo minta aja sendiri kalau berani sana”
“Oke.. ntar deh gue coba, lo gak marah kan?”
“Kalau dia bolehin gue sih gak masalah.. asal lo gak jepret dia diam-diam aja”
“Tok-tok-tok” terdengar suara ketukan di pintu kamarku.
“Dek.. ajak temannya makan dulu, nih udah kakak siapin makan” panggil kakakku dari balik pintu.
“Iya kak bentar” sahutku, kebetulan aku juga sudah lapar dan bosan kalah mulu main game dari si Ucup.
“Untuk apaan?”
“Kayak gak tau aja lo.. ya buat bahan coli lah.. hehe” katanya kurang ajar bicara begitu tentang kakakku.
“Kampret lo.. lo minta aja sendiri kalau berani sana”
“Oke.. ntar deh gue coba, lo gak marah kan?”
“Kalau dia bolehin gue sih gak masalah.. asal lo gak jepret dia diam-diam aja”
“Tok-tok-tok” terdengar suara ketukan di pintu kamarku.
“Dek.. ajak temannya makan dulu, nih udah kakak siapin makan” panggil kakakku dari balik pintu.
“Iya kak bentar” sahutku, kebetulan aku juga sudah lapar dan bosan kalah mulu main game dari si Ucup.
Kamipun
menghentikan permainan kami dulu untuk makan. Ketika keluar, aku melihat
kakakku hanya menggunakan tanktop putih dan celana pendek merah muda. Duh, gak
malu apa dia pake gituan. Aku yang adiknya saja sampai berdesir darahku
melihatnya apalagi temanku ini yang orang luar. Benar saja, ku lihat ke
sebelahku si Ucup dengan tampang bloonnya melongo melihat penampilan kakakku,
untung saja si Ucup masih bisa menguasai kondisi.
“Udah
makan kak? Bareng yuk” kata Ucup basa-basi.
“Belum sih.. kalian aja deh yang makan duluan” jawab kakakku sambil masih sibuk membereskan dapur.
“Bareng aja yuk kak sini.. ntar demo loh cacingnya, hehe..”
“Hmm.. iya deh” setuju kak Ochi akhirnya ikut makan bersama kami.
“Belum sih.. kalian aja deh yang makan duluan” jawab kakakku sambil masih sibuk membereskan dapur.
“Bareng aja yuk kak sini.. ntar demo loh cacingnya, hehe..”
“Hmm.. iya deh” setuju kak Ochi akhirnya ikut makan bersama kami.
Aku
perhatikan si Ucup ini curi-curi padang ke arah kakakku yang tepat duduk di
depannya. Sialan nih kampret matanya.
“Kakak
yang bikin yah?” tanya Ucup.
“Iya, kenapa dek? Gak enak ya?”
“Enak kok, enak banget malah.. bikin nafsu”
“Bilang nafsu kok liatin kakak sih, ayo.. gak mikir yang macam-macam kan?” pancingnya. Mulai deh kakakku nakal -,-
“Iya, kenapa dek? Gak enak ya?”
“Enak kok, enak banget malah.. bikin nafsu”
“Bilang nafsu kok liatin kakak sih, ayo.. gak mikir yang macam-macam kan?” pancingnya. Mulai deh kakakku nakal -,-
“Gak kok
kak, kan maksudnya nafsu makan, bukan nafsu yang lain.. duh beruntung banget
yah si Fadel punya kakak cewek yang seperti kakak, jadi iri Ucup.. udah cantik,
baik, bisa masak lagi hehe..” Kak Ochi tertawa renyah mendengar godaan temanku
yang cabul ini.
“Hihi.. bisa aja kamu, ya udah.. kalau gitu habisin yah, jangan dibuang-buang loh makanannya”
“Sip Kak, gak perlu disuruh itu mah”
“Hihi.. bisa aja kamu, ya udah.. kalau gitu habisin yah, jangan dibuang-buang loh makanannya”
“Sip Kak, gak perlu disuruh itu mah”
Setelah
makan, kamipun melanjutkan lagi membuat PR yang belum selesai tadi. Kali ini
kami mengerjakannya di ruang tengah, sambil nonton acara tv yang menayangkan
pertandingan liga Indonesia yang gak mutu ini. Ya.. ku tonton juga karena yang
main klub dari kotaku. Ku perhatikan dari tadi kakakku sering amat
mondar-mandir kesana kemari. Maksudnya apa coba? Tebar pesona? Bikin aku dan
Ucup teralihkan fokus saja, bahkan sampai gak ngelihat gol barusan karena
pandangan mata kami berubah fokus, malah melihat ayunan bongkahan pantat
kakakku dari belakang. Akhirnya menjelang magrib barulah semua PR ini selesai,
jadi lama amat selesainya gara-gara kami masih saja kebanyakan nyantainya dari
pada bikin PR.
“Kak,
Si Ucup pulang nih..” teriakku sambil mengantar si Ucup ke depan rumah. Saat
itu kak Ochi sedang berada di dalam kamar mandi.
“Pamit pulang dulu kak..” kata Ucup berteriak berpamitan.
“Iya.. hati-hati yah.. jangan bosan main ke mari” jawab kakakku juga berteriak dari dalam kamar mandi.
“Eh, ngomong-ngomong lo gak jadi minta foto ke kakak gue?” tanyaku pada si Ucup saat kami di depan rumah.
“Udah kok tadi, hehe”
“Kapan emang?” tanyaku heran karena tidak mengetahuinya, diam-diam aja nih anak kampret.
“Itu.. waktu gue ambil minum tadi itu lho.. hehe”
“Diam-diam aja lo ya.. sialan lo.. udah sana lo pergi” kataku sambil mengayunkan kakiku seperti menendang ke arahnya. Dengan tertawa-tawa dianya menghindar dan pergi dari dari hadapanku.
“Udah pulang temanmu dek?” tanya kakakku dari belakang.
“Udah kak barusan” jawabku sambil membalikkan badan.
“Pamit pulang dulu kak..” kata Ucup berteriak berpamitan.
“Iya.. hati-hati yah.. jangan bosan main ke mari” jawab kakakku juga berteriak dari dalam kamar mandi.
“Eh, ngomong-ngomong lo gak jadi minta foto ke kakak gue?” tanyaku pada si Ucup saat kami di depan rumah.
“Udah kok tadi, hehe”
“Kapan emang?” tanyaku heran karena tidak mengetahuinya, diam-diam aja nih anak kampret.
“Itu.. waktu gue ambil minum tadi itu lho.. hehe”
“Diam-diam aja lo ya.. sialan lo.. udah sana lo pergi” kataku sambil mengayunkan kakiku seperti menendang ke arahnya. Dengan tertawa-tawa dianya menghindar dan pergi dari dari hadapanku.
“Udah pulang temanmu dek?” tanya kakakku dari belakang.
“Udah kak barusan” jawabku sambil membalikkan badan.
Deg,
aku cukup terkejut melihat penampilan kakakku. Tubuhnya hanya dibalut handuk
putih yang tidak dapat menutupi indahnya belahan dada dan paha kakakku.
Rambutnya masih basah, dan yang lebih menggoda lagi masih ada tetes-tetes air
di kulit mulusnya bahkan ada yang tampak meluncur ke belahan dadanya itu. Tentu
saja anuku jadi berdiri, aku memang tidak tahan kalau melihat dirinya
basah-basahan begini. Apalagi kalau dia basah-basahan karena keringatnya
sendiri seperti saat habis berolah raga, jauh lebih menggoda.
“Liatin
apaan kamu dek?” Duh, aku ketahuan sedang memperhatikan dirinya.
“Eh.. ng..nggak ada kok kak”
“Hmm.. Kamu belum mandi kan? udah sana mandi, liatin kakaknya ntar aja.. kakak gak kemana-mana kok.. hihi”
“Ye.. Siapa juga yang mau liatin kakak.. ” kataku pura-pura jaim.
“Eh.. ng..nggak ada kok kak”
“Hmm.. Kamu belum mandi kan? udah sana mandi, liatin kakaknya ntar aja.. kakak gak kemana-mana kok.. hihi”
“Ye.. Siapa juga yang mau liatin kakak.. ” kataku pura-pura jaim.
Kakakku
tidak berkomentar lagi dan diapun berlalu kembali menuju ke kamarnya. Aku masih
terpana melihat sosok indah kakakku ini, sambil dia berjalan aku masih saja
memperhatikan dirinya, mataku seperti tidak ingin lepas dari tubuhnya itu. Dan
sepertinya Dewa mesum memang sedang berpihak padaku karena “sreet..” handuknya
tiba-tiba jatuh hingga memperlihatkan tubuhnya yang telanjang itu. Celanaku
menjadi makin sempit karenanya.
“Duh..
dek jangan liat!!” teriaknya manja.
“Eh.. i..iya kak, kakak sih pake handuk kecil gitu..” Diapun segera mengambil handuknya, tapi bukannya mengenakan handuknya lagi, dia malah menenteng handuknya itu dan lari telanjang bulat ke kamarnya, sungguh binal dan mengundang birahi. Jadilah makin puas mataku melihat adegan binal kakakku itu, yang selama ini di luar rumah selalu tertutup dan memakai jilbab, kini aku melihat tubuh indahnya bertelanjang bulat bahkan berlari bugil di dalam rumah.
“Eh.. i..iya kak, kakak sih pake handuk kecil gitu..” Diapun segera mengambil handuknya, tapi bukannya mengenakan handuknya lagi, dia malah menenteng handuknya itu dan lari telanjang bulat ke kamarnya, sungguh binal dan mengundang birahi. Jadilah makin puas mataku melihat adegan binal kakakku itu, yang selama ini di luar rumah selalu tertutup dan memakai jilbab, kini aku melihat tubuh indahnya bertelanjang bulat bahkan berlari bugil di dalam rumah.
Penisku
tegang sejadi-jadinya, sekilas aku melihat belahan vaginanya saat dia mengambil
handuk tadi, selain itu saat berlari buah dadanya juga terlihat berayun-ayun
menggoda.
Aku
sudah tidak tahan lagi karena aksi kakakku itu, aku segera mandi yang tentu
saja juga diikuti dengan kegiatan onani membayangkan tubuh bugil kakakku yang
binal. Sungguh onani yang luar biasa saat itu.
Saat ku
keluar dari kamar mandi, aku di sambut lagi oleh kakakku yang berada di dapur.
“Lama
amat mandinya dek? Ngapain sih kamu? Onani?” Sial.. tebakannya tepat sasaran.
Lagian
ulahnya juga sih tadi yang membuat aku terpaksa onani.
“Eh..a..anu..
biasa kan kak.. aku kan cowok normal. Kakak sih pakai telanjang tadi, hehehe..”
jawabku sambil cengengesan.
“Dasar, udah kakak bilang jangan lihat. Emang kamu baru pertama kali lihat cewek bugil ya dek? hihi..”
“Dasar, udah kakak bilang jangan lihat. Emang kamu baru pertama kali lihat cewek bugil ya dek? hihi..”
“Iya
nih Kak, makasih ya.. hehe”
“Huu.. anggap aja tadi itu rezeki kamu. Tapi kamu siram yang benar kan? awas kalau ntar lantainya lengket-lengket di kaki kakak” mendengar omongan kakakku itu aja aku jadi horni lagi, membayangkan kalau kaki kakakku terkena semprotan pejuku.
“Huu.. anggap aja tadi itu rezeki kamu. Tapi kamu siram yang benar kan? awas kalau ntar lantainya lengket-lengket di kaki kakak” mendengar omongan kakakku itu aja aku jadi horni lagi, membayangkan kalau kaki kakakku terkena semprotan pejuku.
“Iya..
udah di siram kok kak.. cek aja kalau gak percaya.. hehe”
Tiba-tiba
aku berpikir untuk membalas aksi kakakku tadi, aku penasaran juga menunjukkan
penisku di depan kakakku, kira-kira bagaimana reaksinya ya.. hehe.. Memikirkan
itu saja penisku kembali tegang, tentu saja langsung nyemplak di handuk yang ku
kenakan ini.
“Dek..”
“Ya kak?”
“Itu kamu bangun lagi tuh.. mikir yang jorok-jorok yah? Jangan macam-macam kamu dek”
“Eh.. nggak kok kak.. maaf” Duh, terpaksa aku membatalkan aksiku.
“Ya kak?”
“Itu kamu bangun lagi tuh.. mikir yang jorok-jorok yah? Jangan macam-macam kamu dek”
“Eh.. nggak kok kak.. maaf” Duh, terpaksa aku membatalkan aksiku.
Udah
kepergok duluan sih mikirin yang nggak-nggak. Lain kali saja deh kutunjukkan.
“Udah
sana pakai bajumu” suruhnya lagi.
“Iyaaaa”
“Iyaaaa”
Aku
menuju kamarku, kemudian bersantai sejenak menenangkan diriku dan adik kecilku
yang tadi sempat tegang. Ku isi waktu dengan mendengarkan musik, baca komik dan
tidur-tiduran di atas tempat tidur. Cukup lama juga aku mengurung diri di
kamar, mungkin hampir tiga jam. Merasa bosan akupun keluar kamar untuk menonton
tv. Aku menemukan kakakku sedang tertidur di sofa depan tv.
“Dasar..
lagi tidur tapi tv dibiarkan hidup” gerutuku.
Ketika
hendak mematikan tv mataku lagi-lagi tertuju pada tubuh kakakku yang tidur
sembarangan ini. Paha putih mulusnya terpampang dengan jelasnya membuat nafsuku
bangkit lagi. Jantungku berdetak kencang melihat pose tidurnya yang sembarangan
itu. Entah dari mana timbul keberanianku, ku pelorotkan celana pendek beserta
celana dalamku sehingga penisku menjuntai bebas di depan kakakku yang sedang
tertidur. Akhirnya aku dapat menunjukkan penisku di hadapannya, tapi sayang dia
tidak sadar.
Aku
semakin berani saja kemudian, aku kocok penisku sendiri di depan wajah kakakku.
Sungguh gila dan teramat nekat memang, tapi aku tidak peduli lagi. Aku sudah
betul-betul tidak tahan. Lama kelamaan kocokanku makin cepat dan sepertinya aku
akan segera sampai. Debaran dadaku semakin cepat.
“Dek!!
Kamu apa-apaan sih” Aku terkejut bukan main, kakakku terbangun, mungkin terjaga
karena aku yang terlalu berisik.
Tapi
spermaku sudah sampai di ujung penisku. Padahal niat hati tidak ingin sampai
keluar di depannya. Tapi kepalang tanggung, dianya sudah terbangun dan sudah
sampai sejauh ini, kakiku bahkan jadi tidak ingin mundur menjauh darinya.
Akhirnya tetap ku arahkan ujung penisku ke wajahnya dan croott.. crrroott!!
Spermaku menyembur bertubi-tubi dengan telaknya ke wajah kakakku yang cantik.
Gila! aku membukkake kakakku sendiri. Jadilah wajah cantiknya kini berlumuran
cairan putih kental milikku. Aku betul-betul puas, sangat lega karena bisa
menuntaskan hasratku, ini betul-betul orgasmeku yang paling luar biasa yang aku
rasakan selama ini.
“Kamu
apa-apan sih deeeekkkk? Sembarangan amat” teriaknya histeris.
“Maaf kak.. g..gak tahan” kataku nyengir.
“Maaf kak.. g..gak tahan” kataku nyengir.
Aku
merasa bersalah juga melakukan hal ini pada kak Ochi. Sungguh perbuatan ku kali
ini teramat nekat. Bisa-bisanya aku menumpahkan spermaku seperti itu ke
wajahnya. Tapi tadi itu betul-betul luar biasa nikmatnya.
“Ihh..
belepotan gini, bau kan?!” rengeknya manja sambil mengusap ceceran spermaku itu
dengan ujung jarinya.
“Ya udah, kali ini kakak maafin.. tapi jangan ulangi lagi” sambungnya.
“Iya kak.. maaf” kataku.
“Ya udah, kali ini kakak maafin.. tapi jangan ulangi lagi” sambungnya.
“Iya kak.. maaf” kataku.
Kakakku
hanya tersenyum kecil, aku lega melihat dia tersenyum, untung saja dia tidak
marah lagi. Tapi melihatnya tersenyum dengan wajah penuh sperma itu memberikan
sensasi tersendiri bagiku, membuat dadaku jadi berdebar-debar.
“Ambilin
tisu dong dek.. keburu kering nih ntar peju kamu, cepetaaan.. kamu kira kakak
suka apa belopotan peju kamu kayak gini”
Aku
segera mengambil kotak tisu yang berada di atas meja dan memberikannya ke
kakakku. Kakakku menerimanya dan mulai membersihkan wajahnya yang berlumuran
peju adiknya itu.
“Puas
kamu? Ngecrot sembarangan aja.. ini wajah kakakmu lho, bukan tembok wc!! dasar
kamu kebanyakan nonton bokep!!” katanya dengan wajah kesal sambil masih
membersihkan wajahnya.
“Maaf kak..”
“Iya-iya.. udah bersih belum dek wajah kakak? Ada yang tinggal nggak?” tanyanya sambil memperlihatkan wajahnya di depanku.
“Itu kak, di bawah bibir” kataku menunjuk bawah bibirku sendiri untuk memberi petunjuk.
“Hmm.. Untung gak masuk ke mulut.. udah?”
“Iya kak.. udah bersih”
“Ya udah pakai lagi tuh celana kamu.. apalagi coba? Belum puas apa?”
“Eh.. i..iya kak” akupun memakai celanaku lagi lalu duduk di sebelahnya.
“Maaf kak..”
“Iya-iya.. udah bersih belum dek wajah kakak? Ada yang tinggal nggak?” tanyanya sambil memperlihatkan wajahnya di depanku.
“Itu kak, di bawah bibir” kataku menunjuk bawah bibirku sendiri untuk memberi petunjuk.
“Hmm.. Untung gak masuk ke mulut.. udah?”
“Iya kak.. udah bersih”
“Ya udah pakai lagi tuh celana kamu.. apalagi coba? Belum puas apa?”
“Eh.. i..iya kak” akupun memakai celanaku lagi lalu duduk di sebelahnya.
Kami
terdiam beberapa saat, aku sendiri tidak tahu harus ngomong apa lagi. Aku
merasa begitu canggung karena kejadian barusan. Ingin aku kembali ke kamar saat
itu tapi aku juga masih ingin berada di dekat kakakku, siapa tahu akan ada
kesempatan yang lebih besar.
“Maaf
yah kak..” kataku mencoba membuka obrolan.
“Iya.. Makanya cari pacar dooong.. masa kakak kamu yang jadi pelampiasan.. dasar”
“Habisnya kakak cantik sih.. seksi lagi.. nafsuin ouppss” Duh, aku keblablasan.
“Hihi.. kamu ini.. dasar yah.. udah berani macam-macam ke kakak.. masih bocah ingusan juga hihihi..”
“Enak aja bocah.. siapa bilang, tadi kan kakak udah liat punyaku.. gede kan kak? Hehe”
“Huu.. Rese kamu…” Kayaknya dia gak mau ngaku, malu mungkin.
“Udahan kan dek? Gak kepingin pejuin kakak kamu lagi kan? tidur lagi yuk..”
“Tidur bareng maksudnya kak?” tanyaku.
“Iya.. Makanya cari pacar dooong.. masa kakak kamu yang jadi pelampiasan.. dasar”
“Habisnya kakak cantik sih.. seksi lagi.. nafsuin ouppss” Duh, aku keblablasan.
“Hihi.. kamu ini.. dasar yah.. udah berani macam-macam ke kakak.. masih bocah ingusan juga hihihi..”
“Enak aja bocah.. siapa bilang, tadi kan kakak udah liat punyaku.. gede kan kak? Hehe”
“Huu.. Rese kamu…” Kayaknya dia gak mau ngaku, malu mungkin.
“Udahan kan dek? Gak kepingin pejuin kakak kamu lagi kan? tidur lagi yuk..”
“Tidur bareng maksudnya kak?” tanyaku.
Sebenarnya
sampai saat ini sesekali aku masih tidur bareng kakakku, biasanya kalau dia
ketakutan kalau lagi hujan badai. Tempat tidurnya juga cukup luas dan muat
untuk dua orang.
“Enak
aja, ntar kamu macam-macam lagi”
“Yah.. kirain”
“Hmm.. ya udah, malam ini tidur bareng lagi, tapi ingat jangan macam-macam” Akhirnya dia mau juga tidur bareng, sepertinya dia memang berniat menggodaku. Ya sudah.. kesempatan, rasain kamu ntar Kak.
“Iya deh kak.. bentar pipis dulu”
“Ya udah kakak ke kamar dulu, jangan lupa nanti semua lampu dimatikan”
“Beres kak”
“Yah.. kirain”
“Hmm.. ya udah, malam ini tidur bareng lagi, tapi ingat jangan macam-macam” Akhirnya dia mau juga tidur bareng, sepertinya dia memang berniat menggodaku. Ya sudah.. kesempatan, rasain kamu ntar Kak.
“Iya deh kak.. bentar pipis dulu”
“Ya udah kakak ke kamar dulu, jangan lupa nanti semua lampu dimatikan”
“Beres kak”
Diapun
menuju kamarnya sedangkan aku ke kamar mandi. Aku jadi berdebar-debar
memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Penisku tanpa sadar ngaceng
kembali, duh ngilu.
“Tok..tok”
“Kak…”
“Iya dek, masuk aja..” akupun masuk ke kamarnya.
“Kak…”
“Iya dek, masuk aja..” akupun masuk ke kamarnya.
Kakakku
duduk bersandar di ranjang sambil membaca novel remajanya, tampak sebagian
tubuhnya sudah masuk ke dalam selimut. Aku masih berdiri saja di sini.
“Napa
dek? Masih grogi gara-gara tadi? Hihi.. Kan udah kakak maafin..” Ku balas saja
dengan senyum kecil.
Akupun
berjalan menuju ke ranjangnya.
“Op,
tunggu bentar!!” katanya menghentikanku, apa lagi nih maunya dia.
“Kamu udah cuci kaki?” tanyanya dengan nada suara menggoda, membuat aku jadi gemetaran.
“Udah kak..”
“Hmm.. udah cuci tangan belum?”
“Udah juga”
“Gosok gigi udah belum?”
“Udaaaah..”
“Ya udah.. boleh naik ke ranjang deh kalau gitu.. hihi.. sini dek bobok” Ckckck, dasar kakakku ini.
“Kamu udah cuci kaki?” tanyanya dengan nada suara menggoda, membuat aku jadi gemetaran.
“Udah kak..”
“Hmm.. udah cuci tangan belum?”
“Udah juga”
“Gosok gigi udah belum?”
“Udaaaah..”
“Ya udah.. boleh naik ke ranjang deh kalau gitu.. hihi.. sini dek bobok” Ckckck, dasar kakakku ini.
Akhirnya
aku naik ke atas ranjangnya dan tiduran di sampingnya yang masih asik membaca.
“Tapi
kamu belum minum susu kan?”
“S..s..susu kak?”
“Iya, susu” katanya dengan tatapan menggoda padaku. Tentu saja aku juga menatap ke arah susunya.
“Kalau itu belum kak, hehe”
“Mau?”
“M..mau apa kak?” tanyaku grogi, berharap dia menawarkan susunya padaku.
“Mau kakak tabok? Jangan ngarap deh kalau itu.. week” katanya memeletkan lidah. Sial, cuma menggodaku aja ternyata.
“S..s..susu kak?”
“Iya, susu” katanya dengan tatapan menggoda padaku. Tentu saja aku juga menatap ke arah susunya.
“Kalau itu belum kak, hehe”
“Mau?”
“M..mau apa kak?” tanyaku grogi, berharap dia menawarkan susunya padaku.
“Mau kakak tabok? Jangan ngarap deh kalau itu.. week” katanya memeletkan lidah. Sial, cuma menggodaku aja ternyata.
Akupun
merebahkan kepalaku dengan kesal.
“Kak..
matiin dong lampunya, mana bisa tidur..” kataku beralasan agar segera bisa
beraksi, padahal aku sebenarnya belum ngantuk.
“Ah, kamu ini nganggu kakak baca aja.. iya-iya” diapun menutup bukunya dan bangkit dari ranjang untuk mematikan lampu.
“Ah, kamu ini nganggu kakak baca aja.. iya-iya” diapun menutup bukunya dan bangkit dari ranjang untuk mematikan lampu.
Degh,
ternyata dia hanya memakai celana dalam saja di balik selimut itu. Dengan hanya
memakai baju kaos dan celana dalam seperti itu kak Ochi kelihatan sangat
menggoda, dadaku kembali berdebar dengan kencangnya karena dirinya ini.
“Napa
dek? Kan tadi siang udah sempat liat kakak bugil.. masa gini aja nafsu?”
“Hehe.. maunya sih liat kakak bugil lagi”
“Week.. jangan macam-macam kamu, udah sana bobo”
“Hehe.. maunya sih liat kakak bugil lagi”
“Week.. jangan macam-macam kamu, udah sana bobo”
“Klik”
lampupun dimatikan dan diapun naik ke atas ranjang berbaring memunggungiku.
Aku
belum berani untuk melanjutkan macam-macam dulu saat ini, padahal tadi niatnya
pengen cari-cari kesempatan, tapi dari pada aku diusir lebih baik ku tunda dulu
niatku. Kupaksakan juga memejamkan mata meskipun celanaku sangat sempit.
Bagaimana tidak sempit, di sebelah ada kakakku yang cantik dan binal hanya
memakai kancut seksi sebagai bawahannya.
Tapi
ternyata aku tidak bisa menahannya, dari balik selimut ku pelorotkan lagi
celanaku hingga peniskupun bebas. Aku kocok barangku sendiri dari balik selimut
itu dengan pelan sambil menatap kakakku meskipun hanya bagian belakang tubuhnya
saja. Memikirkan kalau dibalik selimut ini dia hanya memakai celana dalam dan
aku sendiri tidak memakai celana makin membuat birahiku tinggi. Tapi sepelan apapun
aku onani ternyata dia terusik juga.
“Lagi
ngapain kamu dek? Onani lagi? Udah dibilang jangan macam-macam.. baru juga tadi
kan pejuin Kakak?” katanya menghadapkan wajahnya padaku.
“Eh.. m..maaf kak.. gak tahan”
“Iya.. tapi jangan disini dong.. dasar kamu nafsu sama kakak sendiri” meskipun bicara begitu tapi dia tidak berusaha bangkit ataupun mendorongku dari ranjangnya. Merasa diberi angin ku teruskan saja onaniku.
“Eh.. m..maaf kak.. gak tahan”
“Iya.. tapi jangan disini dong.. dasar kamu nafsu sama kakak sendiri” meskipun bicara begitu tapi dia tidak berusaha bangkit ataupun mendorongku dari ranjangnya. Merasa diberi angin ku teruskan saja onaniku.
“Ckckck..
dikasih tau malah ngelunjak kamu” katanya geleng-geleng kepala.
“Awas kalau kamu macam-macam!!” sambungnya, diapun tiduran lagi membelakangiku, membiarkanku adiknya meneruskan aksi onaniku itu di sampingnya.
“Awas kalau kamu macam-macam!!” sambungnya, diapun tiduran lagi membelakangiku, membiarkanku adiknya meneruskan aksi onaniku itu di sampingnya.
Makin
lama bukannya aku semakin puas tapi malah makin tersiksa, aku seperti ingin
menuntaskannya lagi. Aku sibakkan selimut yang tadi menutupi bagian bawah
tubuhku sehingga kini penisku terpampang bebas. Aku makin berdebar-debar,
sensasi ini sungguh luar biasa, aku mengocok batang penisku yang tidak tertutup
apa-apa lagi di atas ranjang kakakku dengan dianya ada disampingku. Aku tidak
peduli lagi ucapannya agar tidak macam-macam. Aku bangkit dan membuka selimut
yang menutupi tubuhnya. Tubuh molek indahnya kini terpampang di depanku. Mataku
langsung tertuju pada pahanya yang putih mulus.
Kocokanku
makin cepat melihat ini semua, nafsuku sudah sampai di ubun-ubun, tapi ku masih
bisa menahan untuk tidak memperkosa kakakku, bisa masalah entar.
“Dek…”
aku terkejut mendengarnya, ternyata dia masih terjaga meskipun saat ini matanya
sedang tertutup.
“Mau kakak hajar?” sambungnya tanpa mengubah posisi tidurnya.
“Eh.. nggak kak, s..sorry kak”
“Mau kakak hajar?” sambungnya tanpa mengubah posisi tidurnya.
“Eh.. nggak kak, s..sorry kak”
Akupun
menutupi tubuhnya lagi dengan selimut, begitupun aku juga kembali berbaring dan
masuk ke selimut. Duh, gagal. Lanjutin gak yah.. tapi udah dikasih peringatan
berkali-kali ini. Belum tentu kalau aku masih juga ngelunjak dia masih mau
maafin. Ah, ku coba sajalah.
“Kak..”
panggilku.
“Hmm? Apa? bobok lagi sana”
“Ngg.. Boleh meluk gak?”
“Kalau meluk, meluk aja tapi jangan macam-macam” jawabnya membolehkan.
“Hmm? Apa? bobok lagi sana”
“Ngg.. Boleh meluk gak?”
“Kalau meluk, meluk aja tapi jangan macam-macam” jawabnya membolehkan.
Yes,
senang banget dibolehin meluk dirinya. Langsung saja ku lingkarkan tanganku ke
perutnya dan memeluknya dari belakang. Bagian depan tubuhku menempel ke tubuh
belakangnya, dan tentu saja penisku yang masih bebas bergesekan dengan
bongkahan pantatnya yang hanya dibalut kancut tipis itu.
“Dek,
celana kamu belum kamu pakai juga?”
“Belum kak.. gak apa yah kak?”
“Dasar.. jangan nakal tapi kamunya..”
“Iya kak”
“Belum kak.. gak apa yah kak?”
“Dasar.. jangan nakal tapi kamunya..”
“Iya kak”
Betul-betul
kesempatan emas bagiku, aku dapat mencium harum tubuhnya itu. Tidak hanya
sekedar memeluk, kesempatan itu juga ku gunakan untuk meraba perut dan
pinggangnya. Dia mencoba menepis tanganku ataupun menggoyangkan tubuhnya karena
risih, tapi lama-kelamaan akhirnya dia capek sendiri dan membiarkan saja aksi
nakal tanganku. Untuk saat ini aku tidak ingin melakukan hal yang lebih lagi,
cukup ini dulu lah untuk malam ini. Seperti ini saja aku sudah beruntung
banget. Akupun berusaha memejamkan mataku lagi ditengah kenyamanan ini, kali
ini hingga aku benar-benar tertidur.
Besoknya
aku terjaga lebih cepat, itu karena tadi malam aku tidur lebih awal dari
biasanya. Sekarang jam masih menunjukkan pukul lima pagi, masih terlalu pagi
untuk beraktifitas bagiku. Namanya laki-laki kalau pagi-pagi gini si konti
tidak bisa kompromi, apalagi ada cewek cakep alias kakakku yang cantik di
sebelahku. Ku perhatikan kakakku masih tidur dengan nyenyaknya, sesekali
dirinya menggeliat karena hawa pagi yang dingin. Berbeda dengan tadi malam,
untuk pagi ini kayaknya aku bakal gak kuat menahannya.
Masih
sama-sama di dalam selimut, aku peluk dirinya lagi dari belakang, bahkan kali
ini mulai berani meraba buah dadanya. Dengan kurang ajarnya ku goyangkan
pinggulku sehingga penisku bergesekan dengan pantatnya di bawah sana. Beberapa
kali kakakku melenguh seperti akan bangun, tapi karena tidak benar-benar bangun
jadinya tetap ku teruskan aksi cabulku yang nekat ini.
Makin
lama aku semakin tidak tahan, ku sibak lagi selimut itu. Lalu dengan nekatnya
aku mengangkangi wajah kakakku dan mengocok penisku di depan wajahnya lagi,
tepat di atas bibir mungilnya.
“Adek!!”
lagi-lagi dia terbangun di saat-saat genting seperti ini.
“Kamu ini!! masa mau pejuin muka kakak lagi?”
“Kamu ini!! masa mau pejuin muka kakak lagi?”
Aku
tidak menghiraukan ucapannya lagi kali ini dan tetap saja mengocok penisku
karena tanggung, dan crooot… crrooot!! Untuk kedua kalinya aku menyemprot wajah
kakakku dengan spermaku.
“Adek…
nggmmhh..” dia gelagapan menerima semprotan spermaku, kali ini ada yang masuk
ke mulutnya.
Cairan
putihku kali ini menyemprot lebih banyak dan kencang dari sebelumnya, bahkan
ada yang sampai ke rambutnya. Ku geser posisiku dan mundur setelah ejakulasiku
itu. Betul-betul banyak ternyata, sampai ada yang meleleh ke leher dan sprei
tempat tidurnya.
“Ngggmmm…
adek..!!”
“M..maaf Kak..”
“Kamu ini, udah kakak bilang cukup sekali kemarin aja, eh malah ngulangin.. rese kamu.
“M..maaf Kak..”
“Kamu ini, udah kakak bilang cukup sekali kemarin aja, eh malah ngulangin.. rese kamu.
Tuh
lihat sampai kotor gitu kan tempat tidur kakak..!!”
“Maaf
deh kak… biar Fadel yang bersihin nanti” kataku merasa bersalah.
“Dasar kerjaan kamu onani mulu.. kosong tuh dengkul. Ya sudah, udah terlanjur juga.. ambilin lagi sana tisu”
“Iya kak” akupun mengambil tisu yang ada di atas meja dan memberinya ke Kak Ochi.
“Nggak marah lagi kan kak?”
“Mau kamu kakak marah terus?”
“Hehe.. Ya enggak lah kak, terus spreinya gimana kak? Jadi cuci?”
“Hmm.. biar aja deh, ntar juga kering.. kalau gak kering juga terpaksa deh gantian kakak yang tidur di kamar kamu ntar malam”
“Makasih yah Kak.. hehe”
“Dasar.. Dulu waktu mama ngandung kamu mama ngidam apa sih? Kok gini amat mesumnya, hihihi.. Untung semprotnya di muka kakak, coba kalau di..” dia tiba-tiba berhenti bicara.
“Dasar kerjaan kamu onani mulu.. kosong tuh dengkul. Ya sudah, udah terlanjur juga.. ambilin lagi sana tisu”
“Iya kak” akupun mengambil tisu yang ada di atas meja dan memberinya ke Kak Ochi.
“Nggak marah lagi kan kak?”
“Mau kamu kakak marah terus?”
“Hehe.. Ya enggak lah kak, terus spreinya gimana kak? Jadi cuci?”
“Hmm.. biar aja deh, ntar juga kering.. kalau gak kering juga terpaksa deh gantian kakak yang tidur di kamar kamu ntar malam”
“Makasih yah Kak.. hehe”
“Dasar.. Dulu waktu mama ngandung kamu mama ngidam apa sih? Kok gini amat mesumnya, hihihi.. Untung semprotnya di muka kakak, coba kalau di..” dia tiba-tiba berhenti bicara.
“Kalau
dimana kak?” tanyaku memancing, ku lihat wajah kakakku memerah karena malu
menyebutnya.
“Tau sendiri lah kamu.. Udah sana mandi, ntar terlambat kamu sekolah” Kakakku bangkit dari tempat tidur dan membuang tisu itu ke tempat sampah.
“Iya kak..”
“Kamu mau sarapan apa dek? Kakak bikin nasi goreng aja yah?” katanya sambil mengikat rambut sebahunya itu kincir kuda.
“Oke kak..” dia tersenyum dan meninggalkan kamar. Aku menyusulnya keluar tidak lama kemudian untuk segera mandi dan bersiap-siap ke sekolah.
“Tau sendiri lah kamu.. Udah sana mandi, ntar terlambat kamu sekolah” Kakakku bangkit dari tempat tidur dan membuang tisu itu ke tempat sampah.
“Iya kak..”
“Kamu mau sarapan apa dek? Kakak bikin nasi goreng aja yah?” katanya sambil mengikat rambut sebahunya itu kincir kuda.
“Oke kak..” dia tersenyum dan meninggalkan kamar. Aku menyusulnya keluar tidak lama kemudian untuk segera mandi dan bersiap-siap ke sekolah.
Sungguh
beruntung aku bisa menyemprot di wajahnya sampai dua kali, aku harap masih akan
ada lagi semprotan ketiga, keempat atau seterusnya. Aku penasaran apa yang akan
ku lakukan lagi nanti sepulang sekolah bersama kakakku yang cantik dan seksi
itu.
Aku
buru-buru pulang saat selesai jam sekolah. Aku sangat menantikan aksi
selanjutnya bersama kakakku. Tapi ternyata aku tidak beruntung karena
sepertinya Kak Ochi belum pulang dari kuliahnya. Selain itu aku juga sudah
lapar banget karena belum makan siang. Katanya sih Kak Ochi bakal beliin ayam
goreng untuk lauk makan siang kami, tapi udah sore gini dia belum pulang juga.
Terpaksa aku hanya nonton tv sambil menahan perut yang keroncongan.
Dua jam
kemudian barulah ia pulang, seperti biasa ia selalu mengenakan pakaian yang
tertutup lengkap dengan jilbabnya bila keluar rumah.
“Duh
dek, sorry yah sorry yah.. kelaman yah nungguinnya? Udah lapar yah? Sorry
banget… tadi kakak ada perlu…” Ucapnya pertama kali saat masuk rumah.
Sebenarnya
aku kesal, tapi karena melihat wajah memelasnya itu hatiku jadi luluh.
“Iya
iya..” jawabku sambil mengambil bungkusan ayam itu dari tangannya.
“Jangan makan duluuuu… kakak ganti baju dulu bentar, kita bareng makannya” katanya sambil bergegas ke kamarnya.
“Iyaaaa…” jawabku lemas. Sebenarnya aku pengen ngikutin dia ke kamarnya, siapa tahu dibolehin liat dia ganti baju hehe, tapi ternyata rasa laparku lebih kuat. Akupun ke dapur mengambil piring untuk kami berdua.
“Jangan makan duluuuu… kakak ganti baju dulu bentar, kita bareng makannya” katanya sambil bergegas ke kamarnya.
“Iyaaaa…” jawabku lemas. Sebenarnya aku pengen ngikutin dia ke kamarnya, siapa tahu dibolehin liat dia ganti baju hehe, tapi ternyata rasa laparku lebih kuat. Akupun ke dapur mengambil piring untuk kami berdua.
Selang
beberapa lama kemudian dia keluar dari kamarnya. Kali ini dia malah mengenakan
kaos biru yang pas-pasan di tubuhnya dan celana pendek hitam yang mirip celana
dalam. Sungguh berbeda dengan apa yang aku lihat sebelum dia masuk kamar. Yang
tadinya begitu serba tertutup, kali ini begitu terbuka dan memperlihatkan lekuk
tubuh indahnya.
“Mau
yang paha atau yang dada dek?” tanyanya dengan memegang paha di tangan kanannya
dan dada di tangan kirinya.
Duh,
coba aja yang ditawarkan itu paha dan dada miliknya, pasti ku pilih keduanya,
hehe.
“Mau
paha ayam atau dada ayam?” tanyanya lagi, yang sepertinya tahu apa yang sedang
ku pikirkan.
“Eh, dada aja kak..” jawabku akhirnya.
“Nih…” katanya sambil meletakkan paha ayam ke piringku, loh kok.
“Kakak pengennya dada, lebih gede… hihi” seenaknya aja dia, trus ngapain pake nanya tadi -.- Aku hanya memandang kesal padanya, tapi dia cuek saja dan pergi ke ruang tengah untuk makan sambil nonton tv.
“Eh, dada aja kak..” jawabku akhirnya.
“Nih…” katanya sambil meletakkan paha ayam ke piringku, loh kok.
“Kakak pengennya dada, lebih gede… hihi” seenaknya aja dia, trus ngapain pake nanya tadi -.- Aku hanya memandang kesal padanya, tapi dia cuek saja dan pergi ke ruang tengah untuk makan sambil nonton tv.
Sabar…sabar…
ntar ku balas kakakku ini. Kena semprot lagi baru tau rasa dia. (Agan-agan
pembaca ada yang mau bantuin semprotin gak? Hehe…)
Aku
juga mengikutinya makan sambil nonton tv, kakakku duduk bersimpuh di bawah
sedangkan aku sengaja duduk di atas sofa yang ada di belakangnya. Setidaknya
dengan posisiku disini aku bisa menuntaskan dua nafsu sekaligus, nafsu makan
dan nafsu birahi dengan memandangi kakakku.
“Temanmu
gak main kesini lagi dek?” tanyanya disela-sela makan.
“Nggak kak, kenapa emang?”
“Gak ada sih, bagus soalnya karena kakak gak digoda terus, apalagi temanmu kemarin itu si Ucup, pake minta foto kakak segala”
“Ngapain juga sih kakak kasih?”
“Biarin aja, cuma jepretin kakak beberapa kali doang” jawabnya santai. Kak Ochi gak tahu apa kalau bakal dijadikan objek coli si Ucup.
“Tapi dek..” katanya melanjutkan.
“Tapi apa kak?” tanyaku penasaran, dia tersenyum kemudian naik ke atas sofa di sebelahku.
“Kemarin itu dia juga ambil foto bugil kakak lho..” katanya berbisik.
“Nggak kak, kenapa emang?”
“Gak ada sih, bagus soalnya karena kakak gak digoda terus, apalagi temanmu kemarin itu si Ucup, pake minta foto kakak segala”
“Ngapain juga sih kakak kasih?”
“Biarin aja, cuma jepretin kakak beberapa kali doang” jawabnya santai. Kak Ochi gak tahu apa kalau bakal dijadikan objek coli si Ucup.
“Tapi dek..” katanya melanjutkan.
“Tapi apa kak?” tanyaku penasaran, dia tersenyum kemudian naik ke atas sofa di sebelahku.
“Kemarin itu dia juga ambil foto bugil kakak lho..” katanya berbisik.
Jleb!!
Apa? Jadi kakakku difoto bugil sama si Ucup? berarti duluan si Ucup yang
melihat tubuh bugil kakakku. Pantasan tadi waktu aku mau lihat foto kakakku
yang dijepretnya kemarin dia gak mau, terus waktu pulang kemarin dia juga
tampak kesenangan, begitu toh ternyata. Bakal ku hajar si Ucup itu besok. Namun
aku penasaran juga bagaimana si Ucup merayu kakakku sampai kakakku mau difoto
bugil oleh si Ucup. Tapi ah.. sudahlah, lagian aku sudah lihat juga walau sesaat.
Tapi aku tetap tidak habis pikir kakakku mau saja difoto bugil olehnya.
Mengetahui hal itu aku malah horni, membayangkan kakakku telanjang di depan
orang lain yang tidak jelas seperti si Ucup itu.
“Gak
apa kan dek? Cuma foto doang kok.. itupun dia maksa sih, lagian dia janji gak
bakal nyebarin” walaupun maksa kok kamu mau mau aja sih kak, gerutuku dalam
hati.
“Iya, terserah deh.. curang tuh si Ucup. Dasar otak ngeres dia” sungutku.
“Sama kaya kamu.. makanya cari cewek sanaaaa” katanya sambil mencubit pipiku dengan tangan kanannya, sehingga meninggalkan butiran nasi yang menempel di wajahku.
“Iya, terserah deh.. curang tuh si Ucup. Dasar otak ngeres dia” sungutku.
“Sama kaya kamu.. makanya cari cewek sanaaaa” katanya sambil mencubit pipiku dengan tangan kanannya, sehingga meninggalkan butiran nasi yang menempel di wajahku.
“Duh
kak.. sakit tahu..” kataku lebay, dianya malah ketawa-ketawa saja.
Tapi
yang ku lihat selanjutnya membuat darahku berdesir. Dia mencolek nasi yang ada
dipipiku itu lalu memakannya, bahkan dia mengemut-ngemut jarinya sendiri sambil
tersenyum manis menatapku. Aku jadi terpana melongo. Tapi tunggu.. mana ayamku?
Sial, ternyata sudah diembatnya.
“Kaaaaaaaaaak”
teriakku histeris. Jadi ternyata dia sengaja bikin aku mupeng demi mengambil
ayam milikku? Betul-betul bikin kesal.
Dia
betul-betul harus tanggung jawab, udah bikin aku mupeng, dianya juga ngambil
ayamku.
“Hihihi,
makanya jangan ngeres!!” katanya berlari ke dapur sambil ketawa-ketawa.
Aku
hanya meremas sisa nasi di piringku yang kini tidak ada lauknya lagi, terpaksa
ku sudahi makanku T.T
“Udah
sana mandi, udah sore..” katanya santai seperti tidak bersalah.
Dia
yang sepertinya tahu kalau aku masih kesal terus saja tertawa kecil, bikin aku
tambah kesal saja. Diapun masuk ke kamarnya meninggalkanku. Awas yah kak..
betul-betul akan ku tembak lagi mukamu, batinku.
Aku
beneran mandi setelah itu. Meski sedang horni-horninya tapi aku tidak onani
karena memang sengaja menyimpannya nanti untuk balas dendam. Selesai mandi
akupun ke kamar kakakku. Ku lihat dia sedang asik di depan laptopnya.
“Ngapain
kamu dek? Nempel mulu dari tadi”
“Suka-suka dong..”jawabku cuek.
“Pengen coli lagi kamu? Mau nembak muka kakak lagi? Jangan ngarep ya..” Ampun deh, sering amat isi kepalaku ditebak sama dia.
“Kakak lagi sibuk, jangan ganggu deh..” sambungnya.
“Suka-suka dong..”jawabku cuek.
“Pengen coli lagi kamu? Mau nembak muka kakak lagi? Jangan ngarep ya..” Ampun deh, sering amat isi kepalaku ditebak sama dia.
“Kakak lagi sibuk, jangan ganggu deh..” sambungnya.
Sibuk
apanya? Yang ku lihat dia malah asik edit-edit foto. Tapi melihat dia yang lagi
asik ngedit foto aku jadi kepikiran hal mesum, bagaimana kalau nanti aku juga
mengedit fotonya, ku potong gambar kepalanya lalu ku tempel ke foto cewek
telanjang yang lagi disetubuhi rame-rame. Duh, ngebayanginnya aja aku jadi
horni.
“Iya…
gak ganggu kok kak..” Kak Ochi hanya melirik ku sebentar lalu melanjutkan lagi
kesibukannya itu.
Akupun
hanya tidur-tiduran saja di ranjangnya sambil main game di hpku, aku masih
menunggu waktu yang tepat.
“Haaaah..
Cape juga..” katanya sambil melemaskan badannya mengangkat tangannnya ke atas.
“Eh, tumben kamu gak nganggu?” sambungnya melirik padaku, aku hanya cengengesan saja.
“Ya udah kakak mau mandi dulu, kamu mau disini aja? Tapi jangan macam-macam yah di kamar kakak..” Diapun keluar kamar untuk mandi.
“Eh, tumben kamu gak nganggu?” sambungnya melirik padaku, aku hanya cengengesan saja.
“Ya udah kakak mau mandi dulu, kamu mau disini aja? Tapi jangan macam-macam yah di kamar kakak..” Diapun keluar kamar untuk mandi.
Cukup
lama aku sendirian di kamarnya, dasar cewek.. mandinya lama amat. Setelah
sekian lama barulah dia kembali, sekali lagi aku melihat tubuh indahnya yang
basah itu hanya diselimuti handuk kecil.
“Lama
amat kak?”
“Emang itu urusan kamu? Suka-suka kakak dong…” jawabnya ketus, bikin kesal aja tapi tetap aja nafsuin.
“Dek, kakak mau ganti baju nih..” katanya memandang ke arahku.
“Terus?” kataku cuek, dia pasti bakal nyuruh aku keluar nih, pikirku.
“Kamu mau milihin baju buat kakak gak dek? Pilihin deh suka-suka kamu.. anggap aja sebagai ganti rugi ayam tadi” Jebret!! Aku terkejut mendengarnya.
“Emang itu urusan kamu? Suka-suka kakak dong…” jawabnya ketus, bikin kesal aja tapi tetap aja nafsuin.
“Dek, kakak mau ganti baju nih..” katanya memandang ke arahku.
“Terus?” kataku cuek, dia pasti bakal nyuruh aku keluar nih, pikirku.
“Kamu mau milihin baju buat kakak gak dek? Pilihin deh suka-suka kamu.. anggap aja sebagai ganti rugi ayam tadi” Jebret!! Aku terkejut mendengarnya.
Aku
kira tadi bakal diusir, tapi malah disuruh milihin baju untuk dia.
“Eh,
Y..yang bener kak?”
“Iya..” jawabnya sambil tersenyum manis. Yuhu… asik, aku dibolehin milihin baju buat dia \:v/ Waktunya berfantasi ria, mana mungkin bakal ku pilihkan baju yang biasa-biasa saja, akan ku gunakan kesempatan ini secabul mungkin.
“Iya..” jawabnya sambil tersenyum manis. Yuhu… asik, aku dibolehin milihin baju buat dia \:v/ Waktunya berfantasi ria, mana mungkin bakal ku pilihkan baju yang biasa-biasa saja, akan ku gunakan kesempatan ini secabul mungkin.
Langsung
saja ku buka lemari bajunya, saking banyak isinya aku jadi bingung sendiri.
Tapi biarlah, kapan lagi bisa mengobrak-abrik isi lemari kakakku ini.
“Cepetan
dek..”
Dadaku
jadi berdebar-debar, akhirnya aku bisa mewujudkan salah satu khayalanku. Segera
ku obrak-abrik isi lemarinya tanpa peduli kalau dia akan marah.
“Dasar
kamu.. Sampai berantakan gitu lemari kakak.. kontrol diri dek.. hihi”
Setelah
cukup lama membuat berantakan isi lemarinya, akhirnya ku pilih sepotong kemeja
putih lengan panjang yang tampak transparan dan sepasang kaos kaki putih
sebetis, tentu saja tanpa celana dalam ataupun bh.
“Ini
dek? Dalamannya?”
“Gak usah kak.. itu aja.. mau kan kak?”
“Dasar mesum.. iya deh, ngadap sana dulu kamunya… biar surprise ntar” pintanya. Akupun membalikkan badanku.
“Gak usah kak.. itu aja.. mau kan kak?”
“Dasar mesum.. iya deh, ngadap sana dulu kamunya… biar surprise ntar” pintanya. Akupun membalikkan badanku.
Sebenarnya
aku kepengen melihat dia yang dari telanjang hingga mengenakan itu semua. Tapi
betul juga katanya, sepertinya bakalan lebih mengejutkan kalau aku tidak
melihat prosesnya. Dia melempar handuknya itu ke kepalaku, entah apalah
maksudnya. Mungkin saja sebagai penanda kalau kakakku ini sudah bugil polos di
belakangku. Hanya terdengar suara kresek-kresek selama beberapa saat setelah
itu.
“Udah
dek..”katanya tidak lama kemudian, akupun memutar lagi tubuhku.
Woooow…
jantungku berdebar dengan kencangnya, aku langsung panas dingin melihat
pemandangan di depan mataku ini. Khayalan mesumku terwujud. Kakakku terlihat
sangat seksi dan menggoda dengan pakaian yang aku pilihkan itu. Dia hanya
mengenakan kemeja putih lengan panjang tanpa apa-apa lagi dibaliknya. Kemeja
itu tampak longgar dan cukup dalam hingga menutupi paha atasnya, hanya beberapa
senti dari pangkal selangkangannya, seandainya dia duduk pasti pantat dan
vaginanya akan terpampang bebas. Karena kemeja itu agak transparant aku dapat
melihat puting payudaranya yang menerawang dan juga bayangan hitam dari rambut
kemaluannya. Sepasang kaos kaki putih yang melekat di kaki indahnya makin
menambah kesan seksi dan imut luar biasa. Ah.. untung saja aku tidak mimisan.
“Gimana
dek? Suka?” tanyanya sambil memutar tubuhnya bergaya di depanku.
“Iya kak.. s..su..suka banget..”
“Iya kak.. s..su..suka banget..”
Duh,
aku betul-betul tidak tahan lagi untuk onani saat ini. Penisku menengang
sejadi-jadinya dari balik celana. Kakakku hanya tersenyum melihat gelagatku.
“Kenapa
dek? Pengen coli ya kamu?” Duh, kenapa sering kali dia bisa menebak isi pikiran
cabulku.
“Hmm.. kakak bolehin deh kali ini..” katanya lagi.
“Heh? Beneran kak? Biasanya kan kakak marah..”
“Iya.. sesekali gak apa lah kasih kamu hadiah kaya gini.. hihi”
“Hehe.. kakakku ini emang yang paling baik, udah cantik, seksi lagi..” godaku yang kesenangan.
“G-o-m-b-a-l !!” katanya mengeja kata itu per huruf.
“Hmm.. kakak bolehin deh kali ini..” katanya lagi.
“Heh? Beneran kak? Biasanya kan kakak marah..”
“Iya.. sesekali gak apa lah kasih kamu hadiah kaya gini.. hihi”
“Hehe.. kakakku ini emang yang paling baik, udah cantik, seksi lagi..” godaku yang kesenangan.
“G-o-m-b-a-l !!” katanya mengeja kata itu per huruf.
Akupun
segera membuka celanaku beserta kolornya, merasa tanggung aku membuka bajuku
juga sehingga aku jadi telanjang bulat di depannya. Betul-betul suasana yang
cabul.
“Adek!!
Seenaknya aja kamu bugil di kamar kakak!! Gak ada yang boleh bugil di sini
selain kakak!!”
“Hehe, biar lebih asik kak.. gak apa yah kak? Kali iniiii aja”
“Ya udah ya udah ya udah, suka-suka kamu deh, lihat… udah tegang gitu punyamu hihihi..” katanya melirik ke penisku, aku hanya cengengesan saja.
“Hehe, biar lebih asik kak.. gak apa yah kak? Kali iniiii aja”
“Ya udah ya udah ya udah, suka-suka kamu deh, lihat… udah tegang gitu punyamu hihihi..” katanya melirik ke penisku, aku hanya cengengesan saja.
Aku
lalu duduk di tepi ranjangnya dan mulai mengocok penisku di depannya sambil
mataku menjelajahi tubuhnya. Dia masih berdiri di depanku, membebaskan aku
sepuas-puasnya menatap dirinya dengan pakaian seperti itu.
“Semangat
amat, pelan-pelan aja dek, ntar lecet loh.. hihi. Tuh kalau kamu mau pakai aja
body lotion kakak..”
“Boleh juga tuh kak..” Diapun mengambil botol body lotion yang ada di atas meja riasnya dan memberikannya kepadaku.
“Nih..”
“Boleh juga tuh kak..” Diapun mengambil botol body lotion yang ada di atas meja riasnya dan memberikannya kepadaku.
“Nih..”
Aku
menerimanya dan melanjutkan aksiku kembali, kali ini dibantu dengan lotion
darinya. Betul-betul luar biasa rasanya.
“Panas
ya dek? Merah gitu mukanya..”
“Hehehe.. gimana gak panas kak, pemandangannya kayak gini…”
“Hehehe.. gimana gak panas kak, pemandangannya kayak gini…”
Dia
hanya tersenyum, tapi apa yang ku lihat kemudian? dia membuka satu kancing
kemejanya lalu melirik nakal padaku, membuat tubuhku gemetaran saking horninya.
Tapi satu kancing yang terbuka belum cukup untuk melihat belahan dadanya. Seakan
mengetahui pikiran mesumku dia membuka satu lagi kancing kemejanya lalu satunya
lagi!! kini belahan dadanya terlihat jelas. Duh, kakakku betul-betul penggoda
yang jago.
“Cukup
segitu aja yah dek…” katanya lalu tersenyum.
Ah,
padahal aku berharap kalau dia membuka seluruh kancing kemejanya, bahkan kalau
bisa telanjang. Tapi ini saja cukup dan sudah membuatku tidak tahan. Aku
meneruskan kocokanku sambil menjelajahi seluruh bagian tubuhnya, mulai dari
wajah, leher, dada, paha hingga betisnya. Semuanya sungguh putih mulus dan
terawat. Dia sendiri santai saja berdiri di depanku sambil BBM-an dengan
sesekali melirik dan tersenyum manis padaku.
“Kak..
pakai kaca mata itu dong, pasti tambah cantik deh, hehe…” pintaku sambil
menunjuk kacamata bacanya yang ada di atas meja.
Sebenarnya
dia gak rabun sih, tapi sesekali dia memang memakai kacamata kalau lagi
lama-lama di depan laptop atau lagi baca buku, biar matanya gak sakit katanya.
Kacamata itu juga modelnya biasa-biasa saja, dengan tangkai hitam tipis dan
kaca persegi yang bening.
“Hmm?
Ini dek?” tanyanya sambil mengangkat kacamata itu kemudian memakainya.
Duh,
sekarang dia tambah imut saja. Bayangkan saja, dia hanya memakai kemeja putih
polos yang beberapa kancingnya terbuka tanpa bawahan dan dalaman, sepasang kaos
kaki putih, dan juga kacamata. Kurang imut apa lagi coba? Siapa yang bakal
tidak tahan? Makin lama kocokanku semakin cepat, kurasa aku sudah hampir
sampai.
“Kak…”
“Hmm? Apa?” tanyanya dengan nada suara yang merdu.
“Mau keluar.. Ntar keluarin dimana nih kak?” tanyaku sambil mengocok penisku dengan cepat.
“Maunya kamu?” tanyanya balik dengan lirikan menggoda, membuat aku makin tidak tahan saja.
“Di muka kakak lagi boleh gak kak? Hehe” pintaku untung-untungan.
“Dasar.. kakak udah tebak kamu bakal minta itu, hmm.. iya deh.. kali ini aja ya.. Udah mau keluar dek?”
“Iya kak, bentar lagi nih.. ”
“Hmm? Apa?” tanyanya dengan nada suara yang merdu.
“Mau keluar.. Ntar keluarin dimana nih kak?” tanyaku sambil mengocok penisku dengan cepat.
“Maunya kamu?” tanyanya balik dengan lirikan menggoda, membuat aku makin tidak tahan saja.
“Di muka kakak lagi boleh gak kak? Hehe” pintaku untung-untungan.
“Dasar.. kakak udah tebak kamu bakal minta itu, hmm.. iya deh.. kali ini aja ya.. Udah mau keluar dek?”
“Iya kak, bentar lagi nih.. ”
Kakakku
kini bersimpuh dihadapanku sambil tetap tersenyum manis, wajahnya hanya
berjarak sekitar lima belas senti dari ujung penisku. Kali ini sensasi yang ku
rasakan sungguh luar biasa karena dia dengan suka rela dan dalam keadaan sadar
memperbolehkanku untuk menyiram wajahnya dengan spermaku, bahkan matanya
menatapku sambil tersenyum manis! Aku sudah tidak tahan lagi!!
“Kak..
k..keluaaaarrrrr… arghhhh”
“Crooot.. croooottt” spermaku menyemprot dengan banyaknya ke wajahnya untuk ketiga kalinya.
“Crooot.. croooottt” spermaku menyemprot dengan banyaknya ke wajahnya untuk ketiga kalinya.
Bertubi-tubi
spermaku mendarat ke wajah bening cantiknya itu seperti tidak akan berhenti.
Karena matanya yang terlindungi kacamata membuat dia tidak perlu memejamkan
matanya dan terus menatapku selama aku ejakulasi.
Tidak
sia-sia aku tidak onani tadi ketika mandi, jadinya aku dapat menembak lebih
banyak peluru sekarang, sangat banyak dan sungguh nikmat sekali. Ku keluarkan
semuanya hingga tetes terakhir, mengosongkan kantung zakarku dan memindahkan
semua isinya ke wajah kakakku ini. Kini wajah kakakku yang cantik, putih dan
halus jadi belepotan pejuku yang kental dan lengket.
“Nggmmh..
banyak amat sih dek ngecrotnya? Bauuuuu…” protesnya dengan nada manja setelah
semprotanku berakhir.
Dia
lepaskan kacamatanya yang juga kotor terkena pejuku.
“Sorry
deh kak.. tapi kakak makin cantik aja belepotan gitu.. hehe”
“Huu… Iya iya iya makasih pujiannya.. enak ya kamunya, udah tiga kali pejuin muka kakak” aku hanya cengengesan saja karena memang sungguh beruntung bisa pejuin mukanya, bahkan ternyata bisa sampai tiga kali.
“Huu… Iya iya iya makasih pujiannya.. enak ya kamunya, udah tiga kali pejuin muka kakak” aku hanya cengengesan saja karena memang sungguh beruntung bisa pejuin mukanya, bahkan ternyata bisa sampai tiga kali.
Dia
lalu bangkit dan mengambil kotak tisu.
“Sayang
tuh kak kalau langsung dibersihin..”
“Hmm? Terus? Maunya kamu? Masa dibiarin aja sampai kering? Gak mau ah.. bau”
“Kalau gitu ditelan aja kak..” kataku berani.
“Haaah?!! Sembarangan.. jorok tau!! kamu kira enak apa? Nih kamu telan aja sendiri.. nih nih nih…” katanya mencolek sperma di wajahnya dengan telunjuk lalu mengarahkannya padaku.
“Ah Kak.. apaan, nggak..!!” kataku panik, kakakku tertawa terbahak-bahak melihatku yang jijik dengan spermaku sendiri.
“Hahaha.. tuh kan, kamu sendiri aja jijik, pake nyuruh kakak segala..” katanya sambil masih saja tertawa. Sialan kakakku ini.
“Hmm.. Tapi dikit aja yah? Lihat nih” sambungnya.
“Hmm? Terus? Maunya kamu? Masa dibiarin aja sampai kering? Gak mau ah.. bau”
“Kalau gitu ditelan aja kak..” kataku berani.
“Haaah?!! Sembarangan.. jorok tau!! kamu kira enak apa? Nih kamu telan aja sendiri.. nih nih nih…” katanya mencolek sperma di wajahnya dengan telunjuk lalu mengarahkannya padaku.
“Ah Kak.. apaan, nggak..!!” kataku panik, kakakku tertawa terbahak-bahak melihatku yang jijik dengan spermaku sendiri.
“Hahaha.. tuh kan, kamu sendiri aja jijik, pake nyuruh kakak segala..” katanya sambil masih saja tertawa. Sialan kakakku ini.
“Hmm.. Tapi dikit aja yah? Lihat nih” sambungnya.
Dia
menjulurkan lidahnya dan menjilati ujung telunjuknya tadi yang ada tetesan
sperma itu, kemudian memasukkan jarinya itu kemulutnya dan mengemutnya sambil
tersenyum. Tatapan matanya juga melirik ke arahku ketika melakukan itu. Gila,
darahku berdesir melihatnya. Sungguh seksi dan menggoda, makin lemas aku
dibuatnya.
“Udah
kan dek? Puas kan?” katanya lalu membersihkan wajahnya dengan tisu.
“I.. iya kak.. makasih”
“Udah sana pakai lagi baju kamu, terus bikin pe-er” suruhnya.
“Iya.. tapi bajunya kakak jangan diganti dulu kak… biarin aja”
“Kamu mau kakak tetap makai ginian?”
“Iya, gak apa lah kak.. kan cuma di dalam rumah aja, lagian cuma kita berdua aja di sini”
“Iya deh.. malam ini aja lho, dasar kamu nakal” katanya akhirnya menuruti.
“I.. iya kak.. makasih”
“Udah sana pakai lagi baju kamu, terus bikin pe-er” suruhnya.
“Iya.. tapi bajunya kakak jangan diganti dulu kak… biarin aja”
“Kamu mau kakak tetap makai ginian?”
“Iya, gak apa lah kak.. kan cuma di dalam rumah aja, lagian cuma kita berdua aja di sini”
“Iya deh.. malam ini aja lho, dasar kamu nakal” katanya akhirnya menuruti.
Akupun
mengenakan kembali pakaianku dan keluar dari kamarnya. Sungguh pengalaman yang
luar biasa. Kakakku juga ikut keluar kamar. Dia beraktifitas seperti biasa,
keluyuran di dalam rumah dengan masih memakai setelan yang aku berikan tadi.
Sungguh menggoda melihatnya berkeliaran di dalam rumah mengenakan pakaian
seperti itu. Saat dia duduk tentu saja kemeja itu tidak dapat lagi menutupi
vagina dan pantatnya, sehingga dia kelihatan kerepotan menutupi vaginanya itu
dari pandanganku, baik dengan tangannya ataupun dengan merapatkan pahanya.
Melihat tingkahnya itu malah bikin aku gemas.
“Liat
apa kamu?” tanyanya melotot kepadaku.
“Liatin.. kakak, hehe.. gak usah ditutup-tutup segala kak”
“Maunya!! Huh..” katanya seperti menolak.
“Liatin.. kakak, hehe.. gak usah ditutup-tutup segala kak”
“Maunya!! Huh..” katanya seperti menolak.
Tapi
ternyata dia lepaskan juga tangannya. Dia akhirnya tidak berusaha
menutup-nutupinya lagi. Kak Ochi pasrah saja kalau vaginanya menjadi santapan
mataku setelah itu. Saat aku kedapatan olehnya melirik ke vaginanya dia malah
tersenyum padaku. Bikin aku gregetan aja.
Untung
saja hanya aku yang melihatnya seperti itu, entah apa jadinya kalau orang lain
melihat penampilan kakakku seperti sekarang. Yang selama ini di luar selalu
berpakaian tertutup, kini nyaris telanjang keluyuran di dalam rumah.
Tapi
semesum-mesumnya pikiranku, aku belum kepikiran untuk benar-benar menyetubuhinya,
itu masih sebatas khayalan sebagai bahan onaniku saja. Aku belum sampai senekat
itu, aku masih waras untuk tidak berhubungan badan dengan kakak kandungku
sendiri. Ini saja sudah lebih dari cukup, tapi mungkin saja suatu saat bisa
terjadi. Saat ini aku nikmati saja dulu pemandangan di depanku ini. Pemandangan
kakakku yang seksi dan nakal ini. Sepertinya malam ini aku akan sekali lagi
pejuin dia. Sungguh melihat pemandangan indah ini membuat aku tidak tahan.
Tidak mungkin aku bisa menahannya lama-lama.
“Crooot…croooot…”
“Adeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkk!!!”
“Adeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkk!!!”
“Kena nih baju kakaaaak!!” teriak kak Ochi memekakkan telinga.
“M-maaf kak”
“Dasar kamu ih, ngecrotnya sembarangan ajah… lihat nih jadi belepotan kemana-mana gini!!” katanya mengusap kemejanya yang terkena ceceran spermaku, bahkan sampai berceceran ke pahanya yang putih mulus.
“Ish, jorooookkk….,” Rengeknya manja.
“Adeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkk!!!”
“Adeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkk!!!”
“Kena nih baju kakaaaak!!” teriak kak Ochi memekakkan telinga.
“M-maaf kak”
“Dasar kamu ih, ngecrotnya sembarangan ajah… lihat nih jadi belepotan kemana-mana gini!!” katanya mengusap kemejanya yang terkena ceceran spermaku, bahkan sampai berceceran ke pahanya yang putih mulus.
“Ish, jorooookkk….,” Rengeknya manja.
Dia
lepaskan kaos kakinya dan menggunakannya untuk membersihkan pahanya dengan
ekspresi jijik, lalu melemparkan kaos kaki itu ke arah ku.
“Ini
juga kotor, malas ah kakak pake terus,” katanya dengan santai membuka sisa
kancing lalu melepaskan kemeja itu dari tubuhnya. Dia juga melemparkan
kemejanya itu padaku.
Aku
tidak percaya apa yang aku lihat, Kak Ochi Bugil! Akhirnya aku dapat melihatnya
bugil lagi. Mataku tidak bisa lepas dari tubuhnya. Tubuh nakal kak Ochi kini
tidak tertutup apa-apa lagi, begitu putih, mulus dan terawat. Posenya juga
menggiurkan dengan paha dirapatkan dan tangan menyilang di dada seperti
berusaha menutupi buah dadanya yang ranum, tapi tetap saja aku masih bisa
melihat puting merah mudanya yang mancung tegak itu. Pikiranku langsung
melayang kemana-mana.
“Adek!
Malah bengong kamunya… Cuci tuh semua!! Kamu kira apa emang?! Malah ngelamun
lliatin kakak… Rese!” katanya dengan wajah dicemberutkan, membuatku tersadar
dari lamunan cabulku.
“Eh, i-iya kak,” kataku terbata memungut kemeja dan kaos kakinya itu.
“Eh, i-iya kak,” kataku terbata memungut kemeja dan kaos kakinya itu.
Lagian
melihat ulah dan keadaan dirinya saat ini siapa juga yang tidak bakal horni dan
mikir jorok.
“Ayooo….
Ngelamun apa kamu barusan? Ngayal gitu-gituan sama kakak? Iya? Iya kan?
jujuuuurrrrr….,” katanya menatapku penuh selidik, membuat aku jadi grogi.
“Iya kak, upss..,” duh, aku keblablasan ngomong terlalu jujur.
“Rese kamu dek, udah sana bobo! Gitu-gituan sama kakaknya dalam mimpi kamu aja sana, hihi… Malam ini sampai di sini aja. Gak apa kan? udah dua kali ngecrot juga kamunya”
“Ngmmm… tapi kapan-kapan boleh lagi kan kak kaya tadi? Hehe” tanyaku harap-harap cabul.
“Huuu… Seenaknya aja kamu ngomong, dasar!” jawabnya.
“Iya kak, upss..,” duh, aku keblablasan ngomong terlalu jujur.
“Rese kamu dek, udah sana bobo! Gitu-gituan sama kakaknya dalam mimpi kamu aja sana, hihi… Malam ini sampai di sini aja. Gak apa kan? udah dua kali ngecrot juga kamunya”
“Ngmmm… tapi kapan-kapan boleh lagi kan kak kaya tadi? Hehe” tanyaku harap-harap cabul.
“Huuu… Seenaknya aja kamu ngomong, dasar!” jawabnya.
Meski
tidak mengiyakan tapi dia juga tidak menolak, aku anggap saja dibolehkan.
“Jangan
lupa tuh dicuci sampai harum lagi. Pokoknya yang bersih! Udah ah, kakak mau
bobo,” Ujarnya sambil berlari kecil ke kamarnya, masih dalam keadaan telanjang
bulat tentunya.
“Nngg… Kak….” Panggilku.
“Hmm? Apa lagi dek?” sahutnya menoleh ke arahku.
“Tidur bareng?” tawarku. Dia tersenyum manis, lalu menyuruhku mendekat ke arahnya dengan isyarat telunjuk.
“Nngg… Kak….” Panggilku.
“Hmm? Apa lagi dek?” sahutnya menoleh ke arahku.
“Tidur bareng?” tawarku. Dia tersenyum manis, lalu menyuruhku mendekat ke arahnya dengan isyarat telunjuk.
Dengan
cengar-cengir kesenangan akupun segera mendekat ke arahnya.
“Jtak!!”
“Aduh… aw..sshh” Keningku dijitak olehnya, sakit T.T
“Rasain! Sakit dek? Hmm? Mau lagi? Udah kakak bilang udahan… sana-sana hush hush…”
“Iya iyaaaaah”
“Aduh… aw..sshh” Keningku dijitak olehnya, sakit T.T
“Rasain! Sakit dek? Hmm? Mau lagi? Udah kakak bilang udahan… sana-sana hush hush…”
“Iya iyaaaaah”
Yah…
aku tidur sendiri malam ini. Ya sudahlah, lagian tadi aku sudah dua kali
ngecrot, bisa mati lemas aku nanti. Ku periksa kemeja yang tadi dipakainya.
Ternyata memang banyak ceceran spermaku di sana, dan ternyata baunya memang
menyengat. Terpaksa aku nyuci dulu malam-malam, daripada besok aku kena sembur
olehnya.
Beberapa
hari berlalu, kakakku tidak pernah lagi menggodaku secara sadis seperti waktu
itu. Pernah aku mencoba memintanya lagi pada kak Ochi, tapi ditolaknya. Ya..
aku tidak mau juga sampai terlalu memaksanya, termasuk mengulangi perbuatan
kurang ajar menyemprot wajahnya diam-diam seperti waktu itu. Aku takut nanti
hubungaan kami malah rusak. Hmm.. ambil aja positifnya, kalau keseringan onani
gara-gara dia bisa-bisa makin menonjol tulang lututku ini, hehe… Meskipun
begitu, dia masih seperti biasa hanya mengenakan pakaian seadanya kalau di
dalam rumah, termasuk bila ada teman-temanku.
Bila
aku betul-betul tidak tahan melihat penampilannya, terpaksa aku hanya onani
sendiri di kamar atau di kamar mandi T.T Sampai saat ini juga masih kak Ochi
yang menjadi prioritas objek onaniku, soalnya masih belum ada yang lebih hot
dari dia sih, hehe..
Seperti
saat sekarang ini, aku sedang onani tiduran di kamarku sambil memandang fotonya
di hapeku. Foto-foto dirinya yang sudah aku edit abis sedemikian rupa pake
photoshop. Ada yang seperti dia lagi megang penis, ada yang seperti sedang
disetubuhi ramai-ramai dan lain-lainnya.
“Adeeekk…”
katanya nyelonong masuk ke kemarku tanpa mengetuk pintu.
Aku
terkejut bukan main sekaligus panik dipergoki olehnya sedang onani.
“Ups…
lagi asik yah? Sorry sorry… kakak cuma mau minta satu sms, pulsa kakak habis
nih…” dia lalu mendekat dan dengan santainya mengambil ponsel dari tanganku.
“Hah! Apaan nih dek?!” Mati deh, aku belum sempat nge-close foto-foto itu.
“Kamu ngebayangin kakak kaya gini?” tanyanya lagi sambil terus memperhatikan foto-foto editanku itu.
“Hah! Apaan nih dek?!” Mati deh, aku belum sempat nge-close foto-foto itu.
“Kamu ngebayangin kakak kaya gini?” tanyanya lagi sambil terus memperhatikan foto-foto editanku itu.
Aku
tidak dapat mengelak, aku bersiap-siap saja bakal kena sembur olehnya.
“Rapi
banget editnya dek… kaya asli” Heh? Dia malah memuji ternyata.
“Hiiiii gak kebayang deh kalo betulan kaya gitu, masa kakak gituan sama orang negro sih? Digituinnya rame-rame lagi, hahaha… Dasar kamu… fantasinya ada-ada aja. Ya udah, minta satu sms bentar”
“Hiiiii gak kebayang deh kalo betulan kaya gitu, masa kakak gituan sama orang negro sih? Digituinnya rame-rame lagi, hahaha… Dasar kamu… fantasinya ada-ada aja. Ya udah, minta satu sms bentar”
Dia
tidak marah! Malah dia ketawa melihat editanku!
Aku
hanya terdiam di atas tempat tidurku tanpa tahu harus berbuat apa, tanganku
menutup penisku yang sedang tegang-tegangnya itu. Sedangkan dia cuek saja
berdiri di sebelahku sambil ngetik sms dan… makan pisang? Pikiranku langsung
ngeres. Seharusnya tidak ada yang aneh melihatnya lagi makan pisang, tapi aku
yang saat ini lagi horni-horninya malah menghayal yang tidak-tidak. Apalagi
pakaiannya tetap minim seperti biasa, hanya mengenakan tanktop abu-abu longgar
dan celana pendek ketat. Tanpa sadar aku mulai mengocok penisku lagi sambil
membayangkan kalau pisang itu adalah penisku.
“Nih
dek… makasih” katanya meletakkan hapeku ke dadaku setelah selesai mengirim sms.
“Asik benar kayanya kamu dek… Napa dek? Ada yang salah kalau kakak makan pisang? Kamu mau juga?”
“M-mau kak” kataku kesenangan.
“Nihhhh” katanya sambil menyodorkan pisang itu ke mulutku.
“Asik benar kayanya kamu dek… Napa dek? Ada yang salah kalau kakak makan pisang? Kamu mau juga?”
“M-mau kak” kataku kesenangan.
“Nihhhh” katanya sambil menyodorkan pisang itu ke mulutku.
Yah..
aku kira dia bakal memakan ‘pisang punyaku’, ternyata malah menyodorkan pisang
di tangannya itu, aku gigit dan makan juga sedikit.
“Enak?”
tanyanya, aku hanya senyum kecil saja. Dia lanjutkan memakan pisang itu lagi,
bahkan sekarang sengaja memancing birahiku lebih lanjut dengan menjilati dan
mengemutnya.
“Hihi.. Napa dek? senang banget kayanya kamu lihat kakak makan pisang, mikirin apaan sih?” godanya. Aku hanya cengengesan saja. Aku rasa dia sendiri pasti tahu apa yang aku pikirkan.
“Dasar mesum, adekku ini makin gede makin porno aja… hihi” katanya sambil mencubit hidungku.
“Ya udah, lanjutin deh ngocoknya…” katanya beranjak keluar dari kamarku.
“Hihi.. Napa dek? senang banget kayanya kamu lihat kakak makan pisang, mikirin apaan sih?” godanya. Aku hanya cengengesan saja. Aku rasa dia sendiri pasti tahu apa yang aku pikirkan.
“Dasar mesum, adekku ini makin gede makin porno aja… hihi” katanya sambil mencubit hidungku.
“Ya udah, lanjutin deh ngocoknya…” katanya beranjak keluar dari kamarku.
Yah…
kok udahan? protesku dalam hati. Tapi dia seperti tahu saja kalau aku lagi
nanggung, saat hendak menutup pintu dia menoleh lagi padaku.
“Dek…
kalau kamu perlu bantuan kakak, kakak ada di teras belakang yah…” bisiknya
sambil mengedipkan mata kirinya lalu menutup pintu kamarku, membuat darahku
berdesir karenanya.
Apa itu
isyarat kalau aku boleh pejuin dia lagi? Yuhuuuuuu…. Jantungku jadi
berdebar-debar kesenangan.
Aku
keluar kamar tidak lama setelah itu, aku nekat saja keluar kamar tanpa memakai
dulu celanaku. Ku lihat di halaman belakang dia lagi asik olahraga lompat tali.
Kakakku ini memang rajin olahraga, pantas saja badannya tetap indah dan
kencang. Beruntungnya aku punya kakak seperti dia, hehe… (Agan2 jgn ngiri
yah..)
Kak
Ochi tersenyum saja melihatku yang tidak pakai celana menuju ke arahnya. Tapi
dia teruskan lagi olahraganya tanpa menghiraukanku. Seolah sengaja memuaskan
mataku dengan menunjukkan tubuh indahnya yang sudah mulai berkeringat. Aku
duduk di kursi kayu yang ada di dekatnya. Dari sini saja aku dapat mencium
aroma tubuhnya yang khas, apalagi sekarang dia penuh keringat seperti ini,
membuatku semakin horni karenanya.
Aku
mulai mengocok penisku sendiri di dekatnya. Tampak beberapa bagian tanktopnya
sudah basah, dia betul-betul bermandikan keringat. Kulitnya jadi terlihat
mengkilap menambah keseksiannya yang hanya dibalut pakaian minim seperti itu.
Apalagi saat melompat buah dadanya berayun-rayun bebas karena dia tidak memakai
bh. Duh, nafsuin banget, kakakku betul-betul menggoda basah-basahan karena
keringat gini. Kalau bukan kakakku sudah aku perkosa dia dari tadi.
“Haaaaahh…
capek kakak dek, kamu juga capek ya dek? Hihihi,” katanya yang melihat aku juga
ikut-ikutan olahraga, olahraga tangan tepatnya. Kak Ochi duduk di lantai sambil
mengibas-ngibaskan tanktopnya itu. Sesekali dia menyeka keringat di keningnya
dengan tangan. Bahkan dia malah sengaja mempercikkan keringatnya itu ke arahku
lalu ketawa-ketawa kecil. Bikin aku semakin gemas dan birahi saja.
“Udah
selesai aja kak?” tanyaku.
“Kenapa dek? Masih belum puas lihat kakak keringat-keringatan? Bentar yah… istirahat dulu, capek…”
“Tolong ambilin minum dong dek.. panas niiiih,” pintanya manja sambil masih sibuk menyeka keringatnya.
“Iya nih kak, panas, hehe.. kalau panas dibuka aja kak bajunya,” selorohku.
“Weeek… maunya kamu banget itu! Cepat sana ambiliiiin!! ntar gak kakak terusin lagi lho,” perintahnya.
“Iya kak iya, bentar” Aku lalu pergi ke dapur untuk mengambilkannya minum.
“Dek, sekalian tolong ambilin kakak handuk dong untuk lap keringat” pintanya lagi berteriak.
“Kenapa dek? Masih belum puas lihat kakak keringat-keringatan? Bentar yah… istirahat dulu, capek…”
“Tolong ambilin minum dong dek.. panas niiiih,” pintanya manja sambil masih sibuk menyeka keringatnya.
“Iya nih kak, panas, hehe.. kalau panas dibuka aja kak bajunya,” selorohku.
“Weeek… maunya kamu banget itu! Cepat sana ambiliiiin!! ntar gak kakak terusin lagi lho,” perintahnya.
“Iya kak iya, bentar” Aku lalu pergi ke dapur untuk mengambilkannya minum.
“Dek, sekalian tolong ambilin kakak handuk dong untuk lap keringat” pintanya lagi berteriak.
Ku
turuti saja permintaannya itu, ku pergi mengambil handuk di kamarnya.
“Nih
kak…” kataku menyerahkan botol pocari swe*t dan selembar handuk kecil padanya.
“Makasih deeekkk” ujarnya ketika menerimanya.
“Makasih deeekkk” ujarnya ketika menerimanya.
Dia
sepertinya sangat kehausan, minuman itu sampai berleleran ke dagunya dan jatuh
ke dadanya, membuat tanktop yang dipakainya semakin basah.
“Nih,
handuknya buat kamu aja deh dek… kayaknya kamu lebih kepanasan dibanding kakak,
hihihi…” katanya melempar handuk kecil itu padaku. Wah, sepertinya dia mengerti
kalau aku tidak mau dia cepat-cepat mengeringkan keringatnya.
“Lanjut
lagi?” tanyanya dengan tatapan menggoda padaku.
“B-boleh kak, hehe…”
“B-boleh kak, hehe…”
Sambil
tersenyum diapun bangkit dan mulai melompat lagi, memancing keringatnya untuk
keluar lebih banyak dan makin membasahi tubuhnya. Aku juga memulai lagi aksi
cabulku, mengocok penisku sendiri sambil menikmati pemandangan indah di
depanku. Mukanya sudah memerah karena kepanasan, aku yang menyaksikannya juga
jadi ikut-ikutan panas. Apalagi dia sesekali tetap melirik dan tersenyum
kepadaku. Duh, penisku menegang sejadi-jadinya, rasanya penisku siap meledak
kapan saja.
“Tok
tok tok” kami dikejutkan suara ketukan pintu dari depan. Membuat kami sama-sama
menghentikan aktifitas kami.
“Kak ada orang…” kataku pelan pada kak Ochi.
“Siapa yah dek? Kamu buka giiiih” suruhnya.
“Aku kan gak pake celana kak, kayaknya orang minta sumbangan deh kak… biarin aja,” kataku.
“Jangan pelit dek… udah, biar kakak aja yang bukain,” katanya.
“Hmm.. Sekalian wujudkan satu lagi khayalan nakalmu tentang kakak,” sambung kak Ochi berbisik sambil mengedipkan matanya dengan nakal, membuat darahku jadi berdesir.
“Kak ada orang…” kataku pelan pada kak Ochi.
“Siapa yah dek? Kamu buka giiiih” suruhnya.
“Aku kan gak pake celana kak, kayaknya orang minta sumbangan deh kak… biarin aja,” kataku.
“Jangan pelit dek… udah, biar kakak aja yang bukain,” katanya.
“Hmm.. Sekalian wujudkan satu lagi khayalan nakalmu tentang kakak,” sambung kak Ochi berbisik sambil mengedipkan matanya dengan nakal, membuat darahku jadi berdesir.
Dia
lalu menuju pintu depan, namun Kak Ochi terlebih dahulu mengambil uang lima
ribuan yang ada di atas kulkas.
Aku
hanya mengintip saja dari sela-sela pintu belakang, rumah ini memang tidak
telalu besar, dari tempat ku berdiri saat ini aku bahkan bisa dengan jelas
melihat keadaan ruang depan. Duh, jantungku berdebar dengan kencangnya
memikirkan kakakku akan membukaan pintu pada orang yang tidak di kenal dengan
pakaian sembarangan seperti itu, apalagi keadaannya begitu berantakan dengan
wajah memerah dan keringat bercucuran.
“Iya
bentar…” sahut kakakku. Pintu depanpun terbuka.
“Sumbangan anak yatim non…” kata orang itu, seorang pria tua kulit gelap terbakar matahari dengan baju koko yang tampak lusuh, rambutnya juga sudah banyak tumbuh uban yang tidak bisa disembunyikan dari balik peci hitam tuanya.
“Sumbangan anak yatim non…” kata orang itu, seorang pria tua kulit gelap terbakar matahari dengan baju koko yang tampak lusuh, rambutnya juga sudah banyak tumbuh uban yang tidak bisa disembunyikan dari balik peci hitam tuanya.
Ku
lihat ekspresi pria itu yang tampak terkejut saat melihat penampilan kakakku.
Meskipun sudah berumur, tapi dia tetaplah laki-laki yang pasti juga bakal konak
melihat wanita berpenampilan seperti itu di depannya. Badanku jadi panas dingin
melihat kakakku sedang dipelototi begitu, oleh pria tua tidak di kenal lagi.
Kini bertambah satu orang lagi yang pernah melihat penampilan kakakku yang
asal-asalan selain aku dan teman-temanku.
“Ini
Pak.. maaf Pak cuma segini” kata kak Ochi menyerahkan uang lima ribu.
“Iya non, gak apa. Makasih banyak yah non… semoga rezeki non makin lancar dan non makin cantik”
“Amin…” sahut kakakku sambil tersenyum manis pada orang itu.
“Iya non, gak apa. Makasih banyak yah non… semoga rezeki non makin lancar dan non makin cantik”
“Amin…” sahut kakakku sambil tersenyum manis pada orang itu.
Aku
jadi konak luar biasa melihat pemandangan beauty and the beast ini. Kak Ochi,
gadis muda yang cantik putih dengan pakaian terbuka sedang bersama pria tua
hitam, dekil, jelek yang entah siapa.
“Gak
masuk dulu Pak? Bapak pasti haus kan? minum dulu pak…” tawar kak Ochi.
Apa-apaan
sih kakakku ini, sembarangan aja ngajak orang tidak dikenal macam dia masuk ke
dalam rumah.
“Eh,
gak usah non… gak usah repot-repot” tolak Bapak itu halus.
“Udah pak… masuk aja. Istirahat aja dulu, gak ada siapa-siapa kok di rumah” tawar kakakku lagi.
“Udah pak… masuk aja. Istirahat aja dulu, gak ada siapa-siapa kok di rumah” tawar kakakku lagi.
Ku
lihat bapak itu seperti menelan ludah mendengar omongan kakakku, khususnya saat
kak Ochi bilang tidak ada siapa-siapa di rumah. Kali ini kak Ochi menarik
tangan pria tua itu ke dalam. Beruntunglah pria tua itu dapat merasakan halusnya
tangan kakakku ini.
“I-iya
deh non, permisi…” kata pria itu berusaha sopan. Mereka lalu masuk ke dalam.
“Silahkan duduk Pak…” kata kak Ochi mempersilahkan duduk.
“Mau minum apa Pak?” tanyanya lagi.
“Duh, gak usah repot-repot non”
“Gak repot kok pak. Panggil Ochi aja Pak gak usah pake non segala… kalau boleh tau nama bapak siapa?” tanya kak Ochi ramah tanpa merasa risih sedikitpun, padahal dia sedang dipelototi dari tadi.
“P-panggil aja Pak Ahmad,” jawab Bapak itu grogi.
“Oh… Pak Ahmad. Ya udah, Ochi buatin teh manis aja yah pak,” kata kakakku. Bapak itu hanya angguk-angguk saja.
“Silahkan duduk Pak…” kata kak Ochi mempersilahkan duduk.
“Mau minum apa Pak?” tanyanya lagi.
“Duh, gak usah repot-repot non”
“Gak repot kok pak. Panggil Ochi aja Pak gak usah pake non segala… kalau boleh tau nama bapak siapa?” tanya kak Ochi ramah tanpa merasa risih sedikitpun, padahal dia sedang dipelototi dari tadi.
“P-panggil aja Pak Ahmad,” jawab Bapak itu grogi.
“Oh… Pak Ahmad. Ya udah, Ochi buatin teh manis aja yah pak,” kata kakakku. Bapak itu hanya angguk-angguk saja.
Aku
masih bersembunyi di sini, dengan dada berdebar menantikan apa yang akan
terjadi selanjutnya. Kakakku lalu menuju dapur untuk membuatkan teh manis untuk
mereka berdua. Ku lihat mata bapak itu memandangi bongkahan pantat bulat
kakakku dari belakang, dia juga tampak membetulkan celananya. Nafsunya sudah
terpancing, gawat nih.
Saat di
dapur, Kak Ochi tersenyum ke arahku yang masih bersembunyi di sini. Dia
menempelkan telunjuk ke ujung bibirnya sebagai tanda agar aku jangan berisik,
lalu mengedipkan mata kirinya padaku dengan nakal. Duh, bikin gregetan banget,
makin panas dingin badanku dibuatnya.
Kak
Ochi kembali lagi ke depan sambil membawakan dua cangkir teh manis hangat.
Ada-ada aja kakakku ini, padahal hari panas gini, tapi malah disuguhi teh
hangat.
“Silahkan
pak diminum tehnya…” kata kak Ochi sambil meletakan minuman di tas meja di
depan bapak itu. Saat meletakkan teh itu badan kak Ochi sedikit merunduk,
membuat isi dari balik tanktopnya bisa saja terlihat. Sepertinya bapak itu
memang melihatnya karna dia terlihat menelan ludahnya lagi. Dia menyadari
kakakku tidak pakai bh! Duh, tensi semakin tinggi dan memanas!
“I-iya,
Makasih non…”
“Ochi pak, Ochi… Kan udah dibilang tadi, hihi..”
“Hehe, maaf non, eh Ochi. Ngomong-ngomong Ochi habis ngapain? Kok keringatan gini ?” tanya Bapak itu penasaran melihat kak Ochi bermandikan keringat.
“Ochi pak, Ochi… Kan udah dibilang tadi, hihi..”
“Hehe, maaf non, eh Ochi. Ngomong-ngomong Ochi habis ngapain? Kok keringatan gini ?” tanya Bapak itu penasaran melihat kak Ochi bermandikan keringat.
“Habis
olahraga Pak, kan biar tetap sehat dan cantik.. hihi” jawab Kak Ochi dengan
wajah diimut-imutkan.
“Iya, non Ochi cantik benar” kakakku tertawa renyah mendengar pujian bapak ini.
“Hihi, makasih Pak. Paaakk… ayo diminum dong tehnya…” Masih bisa saja kakakku ini ramah tanpa risih sedikitpun, padahal dari tadi mata bapak itu sudah kelayapan kemana-mana.
“Iya, non Ochi cantik benar” kakakku tertawa renyah mendengar pujian bapak ini.
“Hihi, makasih Pak. Paaakk… ayo diminum dong tehnya…” Masih bisa saja kakakku ini ramah tanpa risih sedikitpun, padahal dari tadi mata bapak itu sudah kelayapan kemana-mana.
Bahkan
kini tidak segan lagi memandangi paha putih mulus kakakku. Hatiku merasa tidak
karuan. Takut juga aku kalau kakakku sampai diapa-apakan olehnya, tapi aku juga
horni melihat tingkah binal kakakku ini.
Melihat
Pak Ahmad tidak juga minum, Kak Ochi inisiatif duluan meminum teh manis yang
masih tampak beruap itu. Jadilah tubuh kakakku makin berkeringat karenanya,
sepertinya dia memang berniat menunjukkan tubuhnya yang keringatan dengan
pakaian minim itu pada pak Ahmad. Tentu saja membuat Pak Ahmad makin grogi dan
makin sering membetulkan celananya.
“Panas
ya pak? Mau Ochi tiupin teh nya?” tawar kak Ochi, aneh-aneh aja.
“Eh, gak usah Chi..” Diapun akhirnya meminum teh hangat itu. Bapak itu jadi ikutan berkeringat karenanya.
“Eh, gak usah Chi..” Diapun akhirnya meminum teh hangat itu. Bapak itu jadi ikutan berkeringat karenanya.
Sebenarnya
tanpa minum teh itupun bapak itu juga sudah keringatan dari tadi, pemandangan
didepannya kayak gitu sih.
Perasaanku
makin tidak karuan saja melihat kakakku yang cantik bening lagi
keringat-keringatan berdua dengan pria tua itu. Melihat pemandangan ganjil ini
aku dari tadi hanya mengelus-ngelus anuku sendiri. Duh… Kak.. adekmu udah gak
tahan nih, udahan dong… T.T
“Non
Ochi, Bapak permisi ke kamar mandi yah…,” kata pak Ahmad.
“Silahkan Pak… tuh Pak di belakang, terus aja… udah gak tahan yah pak?” goda kakakku sambil tersenyum manis pada bapak itu.
“Silahkan Pak… tuh Pak di belakang, terus aja… udah gak tahan yah pak?” goda kakakku sambil tersenyum manis pada bapak itu.
Aku
jadi geleng-geleng kepala. Binal amat kakakku ini, diperkosa baru tahu rasa
dia.
Bapak
itupun masuk ke kamar mandi, sedangkan kakakku masih menunggu disana. Kak Ochi
lagi-lagi menoleh ke arahku dan mengedipkan matanya lagi dengan nakal. Apa yang
aku lihat kemudian membuat aku berhenti bernafas, kak Ochi menanggalkan
tanktopnya!! Kini dia telanjang dada disana!! Gila! Sungguh nekat. Ini sih
melebihi fantasiku.
Sungguh
nakal kakakku ini. Apa jadinya kalau Pak Ahmad tiba-tiba keluar dari kamar
mandi dan menemukan Kak Ochi sedang telanjang dada. Aku yakin pasti langsung
diperkosa tuh kakakku tanpa ampun.
Ternyata
cukup lama juga bapak itu di kamar mandi, mungkin dia sedang menuntaskan
birahinya. Bagus deh, dari pada kakakku yang jadi korban. Setelah sekian lama,
gagang pintu kamar mandi tampak bergerak, dengan secepat kilat kak Ochi
mengenakan kembali tanktopnya. Fiuuhh… nafasku betul-betul sesak, hampiiiiir
saja. Aku kira Kak Ochi akan benar-benar telanjang dada di depan bapak itu.
“Non Ochi..
bapak pamit dulu yah.. ntar keburu malam,” kata Pak Ahmad ketika kembali ke
depan.
“Ohh.. ya udah kalau gitu Pak,” kata Kak Ochi sambil berdiri lalu mengantar bapak itu ke depan. Aku tidak dapat melihat mereka berdua karena kak Ochi mengantar sampai keluar rumah, ada sekitar sepuluh detik aku tidak melihat dan mendengar apapun. Aku panik dan hatiku tidak karuan. Aku sampai berpikir yang tidak-tidak.
“Ohh.. ya udah kalau gitu Pak,” kata Kak Ochi sambil berdiri lalu mengantar bapak itu ke depan. Aku tidak dapat melihat mereka berdua karena kak Ochi mengantar sampai keluar rumah, ada sekitar sepuluh detik aku tidak melihat dan mendengar apapun. Aku panik dan hatiku tidak karuan. Aku sampai berpikir yang tidak-tidak.
“Makasih
banyak yah non,” kata Pak Ahmad terdengar kemudian.
“Iya pak, sama-sama” tampak Kak Ochi masuk kembali ke rumah.
“Iya pak, sama-sama” tampak Kak Ochi masuk kembali ke rumah.
Pintupun
tertutup. Akhirnya berakhir juga. Aku betul-betul lega karena tidak sampai
terjadi hal yang tidak diinginkan, tapi itu tadi betul-betul nekat, pake acara
telanjang dada lagi. Tapi yang bikin aku penasaran itu apa yang dilakukan mereka
berdua selama sepuluh detik di luar. Ah sudahlah, sepertinya tidak ada yang
aneh.
Akupun
keluar dari tempat persembunyianku. Aku sudah tidak kuat lagi menahannya. Setan
dalam pikiranku berteriak-teriak
“Exe
kak Ochi! Exe kak Ochi! Exe kak Ochi!” Segera ku hampiri Kak Ochi dan
memeluknya.
“Adeeeeekkkk… apaan sih, kontrol diri! Adeeeeekkk!” teriaknya sambil mendorong-dorong tubuhku.
“S-sorry kak” Akhirnya ku lepaskan pelukanku. Untung aku masih bisa kontrol diri, kalau tidak sudah ku exe dia.
“Dasar kamu…. Gimana dek? Puas? Suka gak liat pertunjukan barusan?” godanya.
“I-iya kak…” jawabku sambil mengocok penisku dengan cepat di depannya.
“Adeeeeekkkk… apaan sih, kontrol diri! Adeeeeekkk!” teriaknya sambil mendorong-dorong tubuhku.
“S-sorry kak” Akhirnya ku lepaskan pelukanku. Untung aku masih bisa kontrol diri, kalau tidak sudah ku exe dia.
“Dasar kamu…. Gimana dek? Puas? Suka gak liat pertunjukan barusan?” godanya.
“I-iya kak…” jawabku sambil mengocok penisku dengan cepat di depannya.
Dia
tertawa kecil melihat tingkahku yang nafsunya sudah di ubun-ubun ini.
“Pengen
ngecrot yah? Dah gak nahan yah dek?” godanya melirik nakal ke arahku.
“I-iya. Kak… boleh lagi yah kali ini?” pintaku memelas.
“Hmm? Boleh ngapaiiin? Ngepejuin muka kakak lagi?” tanyanya dengan masih memasang wajah yang dibuat semenggoda mungkin.
“Iya kak… Plisssss… mau yah? Mau yah?” desakku.
“Dasar” Diapun duduk bersimpuh di lantai, tepat di hadapanku. Yuhuuu… dia mau!
“I-iya. Kak… boleh lagi yah kali ini?” pintaku memelas.
“Hmm? Boleh ngapaiiin? Ngepejuin muka kakak lagi?” tanyanya dengan masih memasang wajah yang dibuat semenggoda mungkin.
“Iya kak… Plisssss… mau yah? Mau yah?” desakku.
“Dasar” Diapun duduk bersimpuh di lantai, tepat di hadapanku. Yuhuuu… dia mau!
Wajah
cantiknya yang masih berkeringat menengadah ke atas memandangku, tentu saja
dengan senyuman super manis andalannya itu. Sungguh menggoda dan membuatku
tidak tahan. Apalagi dari atas sini aku dapat melihat buah dadanya dari sela
lubang leher tanktopnya. Ku kocok penisku di depan wajahnya itu. Tidak butuh
waktu lama memang karena aku sudah menahannya mati-matian dari tadi.
“Croooottt….
Crooooot…. Crooooot” Pejuku muncrat-muncrat tidak karuan ke wajah kak Ochi yang
masih keringatan.
“Kak Ochiiiiiiiiii……. Arggghhhhhh……” Aku melenguh kuat karena sensasi kenikmatan yang luar biasa, soalnya dari tadi sudah kutahan-tahan, akhirnya lega juga.
“Ngmmmhhhh…” Dia ikut-ikutan mengerang dengan mulut tertutup, mungkin terkejut dengan banyaknya spermaku yang tumpah di wajahnya.
“Kak Ochiiiiiiiiii……. Arggghhhhhh……” Aku melenguh kuat karena sensasi kenikmatan yang luar biasa, soalnya dari tadi sudah kutahan-tahan, akhirnya lega juga.
“Ngmmmhhhh…” Dia ikut-ikutan mengerang dengan mulut tertutup, mungkin terkejut dengan banyaknya spermaku yang tumpah di wajahnya.
Aku
yang mendengar lenguhannya itu makin membuatku horni, rasanya tidak ingin saja
aku berhenti menyemprotkan spermaku ke wajahnya itu. Jadilah wajah kakakku
makin berantakan karena pejuku. Sebuah sensasi yang luar biasa melihat
keringatnya dan spermaku bercampur di wajahnya yang cantik.
“Iiihhh…
banyak amat giniiii” rengeknya manja setelah ejakulasiku berhenti.
“Makasih yah kak… hehe…. Enak bener,” kataku puas.
“Tisuuuuu… cepetaaaaannn…. bau nihhhhh” teriaknya.
“Iya iyaaaahhh” Segera aku berlari mengambil tisu dan menyerahkannya pada kak Ochi.
“Ish… Please deh dek… peju kamu itu gak bau dan gak banyak bisa gak?” katanya dengan wajah dicemberutkan, lalu membersihkan wajahnya itu yang begitu belepotan pejuku.
“Hehe.. gak bisa kayanya kak, kakak sih cantik dan seksi gini…”
“Rese kamu.. gom-bal,” katanya sambil melempar tisu bekas itu ke arahku.
“Udah sana pakai celanamu! kakak mau mandi, gerah banget…,” katanya.
“Kan seksi kak keringat-keringatan gitu, bau badan kakak juga lebih menggoda, hehe…” godaku karena masih ingin melihatnya seperti itu.
“Lama-lama kan gak enak juga dek, lengket banget rasanya kulit kakak” katanya sambil mengusap-ngusap lehernya.
“Udah yah adekkuuu,” katanya lagi sambil mengelus pipiku.
“Lain kali lagi yaaaah…,” sambungnya sambil tersenyum manis.
“Makasih yah kak… hehe…. Enak bener,” kataku puas.
“Tisuuuuu… cepetaaaaannn…. bau nihhhhh” teriaknya.
“Iya iyaaaahhh” Segera aku berlari mengambil tisu dan menyerahkannya pada kak Ochi.
“Ish… Please deh dek… peju kamu itu gak bau dan gak banyak bisa gak?” katanya dengan wajah dicemberutkan, lalu membersihkan wajahnya itu yang begitu belepotan pejuku.
“Hehe.. gak bisa kayanya kak, kakak sih cantik dan seksi gini…”
“Rese kamu.. gom-bal,” katanya sambil melempar tisu bekas itu ke arahku.
“Udah sana pakai celanamu! kakak mau mandi, gerah banget…,” katanya.
“Kan seksi kak keringat-keringatan gitu, bau badan kakak juga lebih menggoda, hehe…” godaku karena masih ingin melihatnya seperti itu.
“Lama-lama kan gak enak juga dek, lengket banget rasanya kulit kakak” katanya sambil mengusap-ngusap lehernya.
“Udah yah adekkuuu,” katanya lagi sambil mengelus pipiku.
“Lain kali lagi yaaaah…,” sambungnya sambil tersenyum manis.
Luluh
deh hatiku, akhirnya aku iyakan juga. Lagian aku juga sudah keluar banyak amat
barusan sampai lututku lemas. Akupun terduduk puas di kursi terdekat, makin
lama makin luar biasa saja yang dia berikan dan tunjukkan padaku. Entah apa
lagi selanjutnya. Betul-betul beruntung aku punya kakak cewek sepertinya.
“Dek…”
panggilnya lirih sebelum masuk ke kamar mandi.
“Ya
kak?”
“Mau mandi bareng?”
“Mau mandi bareng?”
JEDAR!!
Apalagi ini!!? Sebuah penawaran yang tentunya membuat penisku kembali bangun
dan bersorak gembira \:v/
“Adeeeeekkkk?
Kok bengong sih? Mau nggaaaak?” tanyanya sekali lagi dengan nada merdu.
“Eh, b-beneran kak? M-ma-mau…” aku tergagap kesenangan.
“Eh, b-beneran kak? M-ma-mau…” aku tergagap kesenangan.
Siapa
juga sih yang gak mau diajak mandi bareng cewek secantik kakakku.
“Ber-can-da
kok

LuckyClub Casino Site - Slots, Blackjack, Roulette
BalasHapusLucky Club is a gambling site and casino. luckyclub We bring you the latest video slots and live table games from some of the biggest online gambling platforms in the world.